Dampak Kemarau, BMKG Sebut Mayoritas Hotspot di Kalimantan Barat

Ilustrasi kebakaran hutan. Foto: dok. Antara.

Dampak Kemarau, BMKG Sebut Mayoritas Hotspot di Kalimantan Barat

Gabriella Thesa Widiari • 21 August 2026 09:14

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menganalisis sejumlah wilayah menjadi titik panas atau hotspot. Hal tersebut akibat cuaca kering dampak musim kemarau.

"Analisis titik panas untuk update 19 Agustus, ada empat provinsi yang menjadi prioritas. Pertama, Kalimantan Barat, kebetulan jumlah hotspot-nya paling banyak," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dikutip Jumat, 21 Agustus 2026.

Sebanyak empat provinsi yang menjadi prioritas BMKG terkait pemantauan titik panas. Keempatnya yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

Faisal menambahkan, dari prediksi BMKG untuk 10 hari ke depan pertumbuhan awan di sebagian besar wilayah Indonesia masih minim. Awan hanya tumbuh di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua. 

"Sehingga ini relatif kering dan masih berpotensi berlanjut di wilayah-wilayah tersebut," kata Faisal. 

BMKG memprediksi hujan baru mengguyur wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. Oleh karena itu, sejumlah operasi modifikasi cuaca terus diupayakan. 


Ilustrasi upaya modifikasi cuaca. Foto: dok. Antara.

Faisal menjelaskan, modifikasi cuaca dilakukan bukan hanya untuk wilayah dengan kebakaran hutan dan lahan. Tetapi untuk menurunkan hujan di wilayah yang mulai kering. 

"Seluruh operasi modifikasi cuaca di bulan Agustus tidak hanya untuk kebakaran hutan dan lahan di Riau juga kami sampaikan juga ada operasi yang masih berlangsung kemudian untuk Jawa Barat ini untuk pengisian waduk dan juga di IKN untuk pengisian waduk Sepaku Semoi di sana yang juga mulai mengalami kekeringan," kata Faisal.

(Gabriella Thesa Widiari)