Ilustrasi: Anadolu
Gubernur Bank Sentral Iran Sebut Ekspor Minyak Berhenti Total Akibat Perang dan Sanksi
Riza Aslam Khaeron • 21 August 2026 19:31
Teheran: Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, menyatakan bahwa ekspor minyak negaranya telah merosot hingga nol akibat dampak perang dan sanksi internasional. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pihak otoritas telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk mengelola risiko kehilangan pendapatan tersebut.
"Tidak ada keraguan bahwa kita menghadapi pembatasan ekspor minyak. Saya juga berbicara dengan pihak Irak dan Qatar; pendapatan mereka dari penjualan minyak telah turun hingga nol. Hal yang sama terjadi pada kami, dan ini adalah kenyataan bahwa kami tidak mengekspor minyak," ujar Hemmati dalam sebuah wawancara televisi pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Melansir Anadolu Agency, Hemmati menjelaskan bahwa pemerintah dan Bank Sentral Iran telah mengantisipasi kondisi ini sebelumnya.
Namun, ia menekankan perbedaan kondisi finansial antara Iran dengan negara tetangganya. Menurutnya, Irak dan Qatar masih memiliki akses terhadap cadangan bank sentral mereka, sedangkan cadangan valuta asing Iran dibekukan oleh Amerika Serikat.

Selat Hormuz jadi perairan penting dalam rute perdagangan minyak. Foto: Anadolu
"Amerika telah membekukan cadangan valuta asing kami dan tidak mengizinkan kami untuk menariknya," kata Hemmati.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa dana milik Iran yang dijanjikan akan dicairkan berdasarkan kesepakatan kerangka kerja damai pada Juni lalu, Memorandum Islamabad, hingga kini belum terealisasi. Kesepakatan tersebut sejatinya dirancang sebagai jalan menuju perjanjian final yang hingga saat ini belum terwujud.
"Masalah pemahaman Islamabad dan pembebasan sumber daya adalah masalah terpisah. Sumber daya yang seharusnya dibebaskan berdasarkan pemahaman ini belum dibebaskan," tegasnya.
Di sisi lain, mengenai kunjungan kerjanya ke Irak baru-baru ini, Hemmati menyampaikan bahwa hubungan ekonomi dan politik kedua negara tetangga tersebut tetap terjaga.
Sebelum perang terjadi, nilai ekspor barang dan jasa Iran ke Irak mencapai 12 miliar dolar AS per tahun. Jumlah itu mencakup 4 miliar dolar AS pada sektor pemerintah (seperti pasokan gas dan listrik) serta 8 miliar dolar AS yang melibatkan sektor swasta.
Hemmati menambahkan bahwa pemerintah Irak telah berjanji untuk melunasi pembayaran yang tertunda kepada Iran.
Meski demikian, ia memaklumi bahwa Baghdad juga sedang menghadapi kesulitan ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz dan terganggunya pendapatan sektor minyak. Diskusi bilateral pun terus dilakukan guna memfasilitasi transfer serta penggunaan dana Iran yang tersimpan di bank-bank Irak.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irak, kedua belah pihak sepakat memanfaatkan sumber daya di Trade Bank of Iraq untuk mendukung penjaminan bagi kontraktor Iran yang beroperasi di Irak. Perdana Menteri Irak dilaporkan telah menyetujui usulan tersebut dan mengeluarkan instruksi teknis untuk mempermudah prosesnya.
Sanksi ekonomi AS secara historis telah lama menargetkan ekspor minyak dan akses Iran terhadap sistem keuangan internasional guna membatasi sumber pendapatan utama Teheran. Pernyataan terbaru dari Gubernur Bank Sentral Iran ini mengemuka di tengah meningkatnya kembali ketegangan militer antara Iran dan AS pasca-runtuhnya kesepakatan kerangka kerja bulan Juni lalu.