Chatib Basri. Foto: Metrotvnews.com/Adrian Bachtiar.
Bukan Senjata, Ini Faktor yang Bisa Mengakhiri Perang Iran-Israel
Ade Hapsari Lestarini • 9 June 2026 18:48
Jakarta: Ekonom senior Indonesia sekaligus mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri, menilai keberlangsungan sebuah perang tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh besarnya biaya ekonomi yang harus ditanggung negara-negara yang terlibat.
Chatib mengatakan konflik dapat berhenti ketika biaya yang harus dikeluarkan sudah terlalu besar untuk dipertahankan.
"Saya bukan ahli militer, tetapi yang saya bisa coba lakukan adalah memperkirakan kemahalan biaya perang," ucap Chatib, dalam forum Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut pria yang akrab disapa Dede ini, strategi yang digunakan Iran saat ini adalah meningkatkan biaya perang bagi lawan-lawannya, terutama Israel dan Amerika Serikat (AS).
Dengan meningkatnya tekanan terhadap pasar energi global, harga minyak berpotensi naik dan mendorong inflasi di AS. Chatib memperkirakan inflasi AS dapat terdorong hingga sekitar 3,8 persen apabila konflik berkepanjangan dan mengganggu pasokan energi global.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan politik domestik bagi pemerintahan AS, terutama menjelang dinamika politik berikutnya.
"Kalau itu terjadi, Partai Republik itu bisa kalah. Sehingga opsi Amerika yaitu mencegah supaya Israel berhenti menyerang," ungkap Chatib.

Ekonom senior Indonesia sekaligus mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri. Foto: Metrotvnews.com.
Tiga dampak perang ke Indonesia
Chatib menilai Indonesia berpotensi menghadapi tiga konsekuensi utama apabila konflik Timur Tengah terus berlanjut.
- Perdagangan dan inflasi. Inflasi yang meningkat, pertumbuhan slow down, serta adanya risiko stagflasi.
- Keuangan. Suku bunga global yang ketat, rupiah tertekan, hingga investasi melemah.
- Defisit minyak yang meningkat secara signifikan.
"Dari segi trade, pasti harga indonesia akan mahal, inflasi akan naik, growth-nya akan melambat, risiko ada stagflasi," kata dia.
Chatib memperkirakan setiap kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar USD1 per barel dapat menambah tekanan terhadap anggaran negara sekitar Rp6,8 triliun.
"Secara fiskal, kalau USD1 itu oil price-nya naik, itu defisitnya Rp6,8 triliun additional," ujar dia. (Adrian Bachtiar)