Menlu AS: Masa Depan Kepemimpinan Iran Tak Pasti Jika Khamenei Lengser
Fajar Nugraha • 30 January 2026 07:05
Washington: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memperingatkan anggota Senat bahwa masa depan kepemimpinan Iran sangat tidak pasti jika Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei lengser. Ia menilai situasi tersebut jauh lebih kompleks dibandingkan dinamika politik yang terjadi di Venezuela.
Pernyataan itu disampaikan Rubio dalam dengar pendapat Komite Hubungan Luar Negeri Senat pada Rabu, 28 Januari 2026, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Ia menegaskan belum ada gambaran jelas mengenai siapa yang akan memimpin Iran jika terjadi kekosongan kekuasaan di tingkat tertinggi.
“Tidak ada yang tahu,” ucap Rubio ketika ditanya bagaimana Amerika Serikat akan menyikapi potensi transisi kekuasaan di Iran. Ia menekankan struktur politik Iran sangat tertutup dan terpusat pada figur pemimpin tertinggi.
Rubio menjelaskan bahwa kekuasaan di Iran bertumpu pada kantor pemimpin tertinggi yang didukung Garda Revolusi Iran serta lembaga keagamaan. Menurutnya, struktur yang terbentuk selama puluhan tahun itu membuat setiap perubahan di puncak kekuasaan berisiko memicu hasil yang sulit diprediksi.
Dilansir dari media Gulf News, pernyataan Rubio muncul di tengah tekanan internal di Iran akibat kesulitan ekonomi dan gelombang protes nasional sejak akhir 2025. Ia menyebut rezim Iran mungkin berada pada titik terlemahnya, meski masih memiliki kemampuan menekan perlawanan domestik.
Dalam kesempatan yang sama, Rubio juga membela keberadaan puluhan ribu pasukan AS di Timur Tengah sebagai langkah defensif. Kebijakan itu dikaitkan dengan kekhawatiran Washington terhadap kemampuan rudal dan drone Iran serta tekanan terkait program nuklir Teheran.
Para analis menilai pengakuan Rubio mencerminkan tantangan besar bagi strategi luar negeri AS. Tidak seperti Venezuela yang memiliki klaim pemerintahan sementara, sistem teokrasi Iran dinilai tidak memiliki mekanisme suksesi yang jelas, sehingga pertanyaan tentang arah kepemimpinan berikutnya akan terus menjadi sorotan utama.
(Keysa Qanita)