BMKG: Bagian Selatan Indonesia Makin Kering, Malam jadi Lebih Dingin

Ilustrasi: Freepik

BMKG: Bagian Selatan Indonesia Makin Kering, Malam jadi Lebih Dingin

Lukman Diah Sari • 17 June 2026 22:16

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi atmosfer di Indonesia memasuki pertengahan Juni 2026 menunjukkan kecenderungan semakin kering, terutama di wilayah bagian selatan. Kondisi suhu udara pun lebih panas saat siang, dan lebih dingin pada malam hingga pagi hari.

"Berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut, sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan telah mengalami periode tanpa hujan dengan kategori menengah hingga sangat panjang," kata BMKG dalam laman resmi, Rabu, 17 Juni 2026.

Wilayah yang mengalami kondisi tersebut meliputi Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Periode tanpa hujan tercatat berada pada kategori menengah, yakni 11-20 hari, hingga sangat panjang yang mencapai 31-60 hari.

Ilustrasi Medcom.id

Kondisi itu sejalan dengan perkembangan musim kemarau di Indonesia. Tercatat sebanyak 33,3 persen wilayah Zona Musim (ZOM) atau 233 ZOM telah memasuki musim kemarau.

"Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengurangan curah hujan mulai meluas dan perlu menjadi perhatian, terutama pada wilayah yang memiliki kerentanan terhadap kekeringan meteorologis, penurunan ketersediaan air, serta peningkatan potensi suhu udara yang terasa lebih panas pada siang hari dan lebih dingin pada malam hingga pagi hari," jelas BMKG.

Meski kondisi kering semakin mendominasi wilayah Indonesia bagian selatan, sejumlah wilayah di Indonesia bagian utara masih mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat.

Pada periode 11-14 Juni 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di sejumlah wilayah. Curah hujan tertinggi terjadi di Sumatra Barat mencapai 139 milimeter per hari, disusul Papua 94 milimeter per hari, Riau 89 milimeter per hari, Sulawesi Utara 79 milimeter per hari, Kalimantan Barat 77 milimeter per hari, dan Sulawesi Barat 63 milimeter per hari.

"Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Papua, serta Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatra," jelas BMKG.

Selain itu, adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra dan di sekitar Selat Makassar turut mendukung terbentuknya daerah konvergensi dan belokan angin, terutama di sebagian wilayah Sumatra dan sekitarnya.

"Pengaruh gelombang atmosfer dan dinamika regional tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan," ujar BMKG.

Dengan demikian, meskipun Indonesia telah memasuki musim kemarau, potensi hujan masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah-wilayah yang dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer, konvergensi, dan belokan angin.

(Lukman Diah Sari)