Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Foto: Antara.
Kemenkes Temukan 13.297 Suspek Kusta pada CKG 2026
Anggi Tondi Martaon • 4 August 2026 20:18
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan 13.297 suspek kusta dari 25,2 juta peserta berumur satu tahun ke atas yang mengikuti Cek Kesehatan Gratis (CKG) selama 2026. Skrining kusta, skabies, dan frambusia per 2026 sebagai upaya percepatan eliminasi penyakit-penyakit tersebut di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kusta sudah ada sejak ribuan tahun dan bakteri penyebabnya masih satu genus dengan bakteri penyebab tuberkulosis, yakni Mycobacterium. Meski sudah dikenal sejak lama, masih banyak yang menganggap penyakit ini sebagai kutukan, sehingga stigma terhadap kusta menyulitkan deteksi dan menghambat pengobatan.
"Karena orang ya apa, stigma padahal begitu dia kalau di-CKG bisa ketahuan," kata Budi dikutip dari Antara, Selasa, 4 Agustus 2026.
Padahal, katanya, obat atau antibiotik untuk kusta sudah tersedia. Obat tersebut terbukti efektif sehingga penderita yang telah sembuh tidak lagi menularkan penyakit tersebut.
Dia menyebutkan, stigma seputar kusta itu begitu kuat. Dia mencontohkan, di Makassar ada bangunan di mana para penderita kusta berkumpul, karena mereka tidak diterima oleh keluarganya sendiri. Hal seperti itu banyak terjadi di seluruh Indonesia.
"Kemarin kita datang pas mau bola lagi. Jadi mintanya apa, 'minta TV'. Ya udah kita beliin TV biar bisa nonton bola, gitu kan. Pas saya datang itu 2 hari sebelum final bola," ungkap Budi.
Dia pun meminta media untuk turut mengedukasi publik tentang CKG dan manfaatnya untuk memastikan hidup yang sehat.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan, CKG 2026 juga menemukan sebanyak 21.079 suspek skabies dari 25,4 juta peserta berusia satu tahun ke atas. Kemudian, 2.293 suspek frambusia dari 21,3 juta peserta berusia satu tahun ke atas.

Ilustrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG). Foto: Istimewa.
Sebelumnya, Budi mengatakan pihaknya akan melakukan tes PCR bagi penduduk Indonesia bagian timur selain memasukkan skrining kusta ke dalam CKG. Hal itu sebagai upaya memperkuat cakupan deteksi,
Kemudian, pihaknya juga mengobati pasien hingga sembuh, baik selama 6 bulan ataupun 12 bulan. "Nomor tiga, semua kontak eratnya, sekeluarga, kita kasih profilaksis," katanya.
Dia menyoroti komitmen pemerintah untuk eliminasi penyakit menular itu pada 2030.