Personel Basarnas Banten menuliskan data penumpang kapal yang hilang kontak di Posko SAR Nasional, Pandeglang, Banten, Selasa (8/9/2026). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
5 Jurnalis Hilang di Perairan Gunung Anak Krakatau, Pemilik Pastikan Kapal Layak Berlayar
Achmad Zulfikar Fazli • 9 September 2026 02:14
Jakarta: Pemilik kapal yang membawa rombongan jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, Sandi Wiasa, memastikan kapal dalam kondisi layak berlayar. Kapal dilengkapi dokumen serta jaket pelampung saat bertolak dari Dermaga Pegedongan, Carita, Banten, Senin, 7 September 2026.
“Kapal yang dipergunakan adalah kapal saya, itu berangkat kemarin sekitar jam 14.00 WIB lebih dari Dermaga Pegedongan,” kata Sandi dalam keterangan visual dipantau di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa malam, 8 September 2026.
Sandi mengatakan kondisi perairan ketika kapal berangkat tergolong normal dan kapal membawa delapan orang sesuai dengan kapasitas kapal.
“Masih layak. Kapal layak untuk jalan,” ujar Sandi.
Dia juga memastikan kapal memiliki dokumen perizinan serta jaket pelampung. “Untuk kelengkapan, untuk perizinan kita ada, surat-surat kapal kita ada, terus life jacket ada, Pak,” kata Sandi.
Menurut Sandi, informasi mengenai kapal yang tidak dapat dihubungi pertama kali diterima dari Kapolsek Carita sekitar pukul 13.00 WIB. Dia tidak menerima informasi tersebut langsung dari nakhoda kapal.
Kapal tersebut juga memiliki global positioning system (GPS) portabel, namun Sandi tidak mengetahui apakah perangkat tersebut dapat digunakan untuk melacak posisi kapal.
Setelah mengetahui kapal hilang kontak, Sandi berupaya mencari informasi dengan menghubungi sejumlah kerabat di wilayah Pulau Sebesi, Lampung, serta berkoordinasi dengan Basarnas.
“Ya, saya sudah menghubungi beberapa saudara-saudara kita yang ada di wilayah Sebesi, Lampung. Alhamdulillah sekarang juga sedang berusaha untuk membantu pencarian dengan nelayan-nelayannya,” kata Sandi.
_%C2%A0ANTARA%20FOTO_Putra%20M_%20Akbar.jpg)
Personel Basarnas Banten menunjukkan peta posisi terakhir kapal yang hilang kontak di Posko SAR Nasional, Pandeglang, Banten, Selasa (8/9/2026). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
Sandi mengatakan perjalanan dari Carita menuju kawasan Krakatau biasanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Dia juga membenarkan pemandu dalam rombongan sempat mengirimkan foto kondisi Gunung Anak Krakatau kepada istrinya.
“Masih ada dengan guide-nya, Pak,” ujar Sandi.
Menurut dia, foto tersebut dikirim sekitar empat jam setelah kapal bertolak dari Carita dan memperlihatkan kondisi Gunung Anak Krakatau dengan jelas.
Sandi mengatakan posisi kapal saat foto tersebut diambil berada lebih dari tiga kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan laporan Kantor SAR Banten, kapal speedboat yang membawa rombongan jurnalis tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, sekitar pukul 14.00 WIB, Senin, 7 September 2026, untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Komunikasi terakhir mencatat korban sempat mengirimkan lokasi terkini share kepada rekan jurnalis di Lampung pada pukul 14.42 WIB, sebelum akhirnya hilang kontak pada pukul 15.04 WIB di titik koordinat duga 6°14'40.52"S 105°40'49.48"T.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan dalam operasi pencarian sampai dengan 18.15 WIB, tim yang bertugas menjangkau sampai dengan Pulau Krakatau dan Pulau Panjang. Namun, hasilnya nihil.
Operasi pencarian diagendakan berlanjut pada Rabu pagi, 9 September 2026. Kantor SAR Banten mengerahkan KN SAR Tatuka, Rigid Inflatable Boat (RIB) Banten, dilengkapi peralatan SAR air, medis, dan komunikasi bekerja sama dengan Polairud Polda Banten.
"Untuk rencana besok tetap nanti kita memperluas area pencarian karena hari ini kita mempelajari rute dari Carita sampai dengan Anak Gunung Krakatau. Seperti itu," kata Al Amran.
Data sementara, Basarnas mencatat terdapat tujuh orang yang dalam pencarian (DP), di antaranya pewarta foto LKBN ANTARA M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki (Jurnalis Merdeka), Yudhis (Jurnalis iNews), Daus (Jurnalis Anadolu), Donal (pewarta lepas/freelance), serta dua orang lainnya yang masih dalam proses pendataan.