Polisi Thailand menyebut pelaku penembakan massal di sekolah telah mempelajari cara menggunakan senjata dari media sosial. (Anadolu Agency)
Pelaku Penembakan di Sekolah Thailand Belajar Gunakan Senjata dari Media Sosial
Muhammad Reyhansyah • 10 August 2026 14:26
Nonthaburi: Kepolisian Thailand mengatakan bahwa remaja yang melakukan penembakan di rumah dan sekolahnya hingga menewaskan delapan orang serta dirinya sendiri diduga telah mempelajari cara menggunakan senjata api melalui media sosial.
“Penyelidikan sementara menunjukkan paparan konten kekerasan di media sosial, kecemasan terkait pendidikan, persoalan keluarga, serta konflik dengan teman kemungkinan turut memengaruhi aksi pelaku,” kata pejabat senior kepolisian Thailand Atthapol Anusit, dikutip dari BBC, Senin, 10 Agustus 2026.
Hingga Minggu, polisi telah memeriksa 17 saksi untuk mengungkap motif penembakan yang dilakukan pelajar berusia 14 tahun tersebut.
Menurut penyelidikan, pelaku lebih dulu menembak mati kedua kakek-neneknya di rumah menggunakan pistol milik sang kakek sebelum menuju Sekolah Debsirin Nonthaburi dan menembaki guru serta siswa.
Saat ditanya apakah aksi itu telah direncanakan, Atthapol menjawab hal tersebut "kemungkinan besar" memang telah dipersiapkan.
Polisi menyita pistol yang digunakan pelaku, selongsong peluru, telepon genggam, serta sebilah pisau yang ditemukan di dalam tas sekolahnya sebagai barang bukti.
Pemeriksaan terhadap komputer milik pelaku juga menunjukkan ia mengakses konten-konten kekerasan di media sosial. Namun, polisi tidak menemukan bukti bahwa pelaku pernah berlatih menembak di lapangan tembak atau menjalani pelatihan penggunaan senjata api.
Atthapol menambahkan seorang guru sebelumnya pernah menyita senapan BB milik pelaku yang dibelinya secara daring dan dibawa ke sekolah.
Polisi menyebut pelaku telah tinggal bersama kakek-neneknya sejak berusia dua tahun setelah kedua orang tuanya berpisah.
Ibunya, yang identitasnya tidak diungkapkan, mengatakan kepada Reuters bahwa putranya merupakan anak yang "cerdas, ceria" dan "berperilaku normal". Ia mengaku terakhir kali bertemu anaknya saat libur sekolah baru-baru ini.
"Kami benar-benar terpukul, karena tidak seorang pun menyangka ini akan terjadi," ujarnya.
Media lokal melaporkan ayah pelaku juga telah menyampaikan permintaan maaf atas tindakan putranya.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul sebelumnya berjanji memperketat regulasi kepemilikan senjata api setelah insiden yang menjadi salah satu penembakan sekolah paling mematikan di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Thailand Akan Perketat Aturan Senjata Api usai Penembakan yang Tewaskan 8 Orang