Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
BMKG Catat Dampak El Nino 2026 Tidak Merata, Ini Daftar Wilayahnya
Lukman Diah Sari • 4 August 2026 12:18
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Nino 2026 telah mencapai kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat, sehingga berisiko memicu musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang. Namun, BMKG juga mencatat dampak El Nino tidak merata di seluruh wilayah Indonesia.
Melansir Antara, wilayah di selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatra bagian selatan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis. Sementara itu, wilayah seperti pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami penurunan curah hujan secara signifikan karena memiliki pola hujan yang berbeda.
"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat yang ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4. Kami menggunakan data periode Mei, Juni, dan Juli yang menunjukkan El Nino dengan indeks ENSO +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut dia, El Nino menyebabkan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia berkurang sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi klimatologis normal. Curah hujan pada Agustus hingga September 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.

Ilustrasi El Nino. Foto: Pexels/Chien Ba
Sementara itu, Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober 2026 sehingga pengaruh El Nino terhadap curah hujan di Indonesia akan berangsur melemah. Teuku menambahkan, El Nino mulai aktif pada Juni 2026, diperkirakan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan atau sekitar Mei 2027. Namun, durasi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.
"Begitu musim hujan terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak signifikan," katanya.
Teuku mengatakan El Nino berpotensi mempengaruhi berbagai sektor, mulai dari pertanian, penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, perikanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait telah melakukan langkah antisipasi sejak beberapa bulan terakhir, antara lain melalui operasi modifikasi cuaca untuk mengisi bendungan yang mengalami penurunan kapasitas air serta mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.