Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
KSSK Ungkap Alasan Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Meski Konflik Global Memanas
Ade Hapsari Lestarini • 3 August 2026 16:55
Jakarta: Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia selama triwulan II-2026 tetap terjaga di tengah meningkatnya konflik geopolitik global. Stabilitas tersebut didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas.
"Memasuki triwulan II-2026, tekanan eksternal kembali meningkat seiring eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal," kata Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK, dilansir Antara, Senin, 3 Agustus 2026.
Meski tekanan eksternal meningkat, Purbaya mengatakan perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid serta kondisi sektor keuangan yang terjaga.
"Dengan perkembangan tersebut, risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dipandang perlu terus diwaspadai untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi," ujar dia.
Ia menjelaskan, perekonomian global pada triwulan II-2026 masih menghadapi tantangan akibat ketidakpastian konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mengganggu pasokan energi, mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas strategis, serta meningkatkan risiko terhadap perdagangan dan rantai pasok global.
Tekanan tersebut memicu kenaikan inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter di sejumlah negara maju.
Di Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) meningkat seiring risiko inflasi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan serta fiskal yang masih membayangi sentimen pasar.
Di pasar keuangan global, volatilitas juga tetap tinggi. Fenomena flight to safety kembali menguat yang tercermin dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta tekanan terhadap arus modal ke negara berkembang.
Memasuki Juli 2026, risiko global kembali meningkat akibat berlanjutnya konflik Amerika Serikat dan Iran. Lalu lintas di Selat Hormuz yang sempat membaik setelah interim deal pada pertengahan Juni kembali terganggu setelah eskalasi konflik pada awal Juli.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi global versi IMF
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Update edisi Juli 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar tiga persen pada 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi April 2026 sebesar 3,1 persen, di tengah meningkatnya inflasi global.
Di sisi lain, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 diperkirakan tetap tumbuh kuat. Daya beli masyarakat dinilai masih terjaga sehingga menopang konsumsi rumah tangga. Kondisi itu didukung peran APBN sebagai shock absorber melalui program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus selama periode libur sekolah.
Investasi juga diperkirakan tumbuh kuat berkat proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.
Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan meningkat sejalan dengan percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN), dan penyaluran bantuan sosial.
Purbaya mengatakan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan perbankan.
Hal itu tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang tetap tinggi sepanjang triwulan II 2026 dan masih tumbuh 15,4 persen pada minggu ketiga Juli 2026. Kondisi tersebut diikuti oleh perbaikan fungsi intermediasi perbankan.
Aktivitas manufaktur yang sempat melambat pada akhir triwulan II juga kembali berekspansi pada Juli 2026. Hal itu tercermin dari PMI Manufaktur yang berada di level 50,2, menandakan optimisme pelaku usaha mulai pulih.
Ke depan, KSSK memastikan sinergi kebijakan antaranggota akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
"Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 5,6-6 persen, ditopang berbagai sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya," kata Purbaya.