Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) peringatkan ancaman hantavirus. Foto: Xinhua
WHO Peringatkan Potensi Kasus Baru Hantavirus, Sebut Wabah Masih Terkendali
Fajar Nugraha • 8 May 2026 15:28
Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Kamis, 7 Mei, bahwa kasus baru hantavirus kemungkinan akan muncul kembali.
WHO memprediksi wabah ini akan bersifat terbatas jika langkah-langkah pencegahan dilakukan secara ketat, menyusul laporan kematian tiga penumpang kapal pesiar akibat penyakit tersebut.
Negara-negara di seluruh dunia bergerak cepat pada hari Kamis untuk membendung penyebaran hantavirus lebih lanjut pasca-wabah di kapal pesiar. Otoritas kesehatan melakukan penelusuran terhadap penumpang yang telah turun sebelum infeksi terdeteksi, serta siapa pun yang melakukan kontak erat dengan mereka.
Tiga orang yang terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman dilaporkan tewas dalam wabah di kapal MV Hondius. WHO mengonfirmasi lima kasus positif dan tiga kasus suspek tambahan terkait insiden tersebut.
Seorang penumpang yang sakit dari kapal MV Hondius mendarat di Eropa pada hari yang sama, sementara kapal tersebut melanjutkan perjalanan menuju pulau di Spanyol. Petugas kesehatan kini tengah bekerja keras untuk memetakan penyebaran jenis virus yang dapat menular antarmanusia dan berpotensi mematikan tersebut.
Nasib kapal MV Hondius memicu kekhawatiran internasional setelah kematian tiga penumpangnya. Namun, pejabat kesehatan berupaya meredam ketakutan akan pandemi global, mengingat virus yang dibawa tikus ini dinilai kurang menular dibandingkan Covid-19.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan bahwa total ada lima kasus terkonfirmasi dan tiga kasus suspek, termasuk para korban jiwa.
"Mengingat masa inkubasi virus Andes yang dapat mencapai enam minggu, ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan," ujar Tedros merujuk pada galur langka yang terdeteksi di kapal Hondius, seperti dikutip France24, Jumat, 8 Mei 2026.
Prediksi tersebut terbukti dengan cepat setelah Pusat Medis Universitas Leiden di Belanda mengumumkan adanya pasien lain yang teruji positif pada Kamis malam. Namun, Direktur Kesiapsiagaan dan Respons Darurat WHO, Abdi Rahman Mahamud, menegaskan keyakinannya bahwa wabah ini akan tetap terbatas jika tindakan kesehatan masyarakat diterapkan dan solidaritas antaranegara terjaga.
Saat ini, orang-orang yang diduga tertular virus tersebut sedang menjalani perawatan atau isolasi di Inggris, Jerman, Belanda, Swiss, dan Afrika Selatan. Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menegaskan bahwa ini bukan awal dari sebuah epidemi atau pandemi.
"Ini bukan awal dari epidemi. Ini bukan awal dari pandemi. Ini bukan Covid," tegas Van Kerkhove.
Hantavirus merupakan penyakit pernapasan langka yang biasanya menyebar dari tikus yang terinfeksi dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan serta jantung, hingga demam berdarah. Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun obat untuk penyakit ini, sehingga pengobatan hanya difokuskan pada upaya meredakan gejala pasien.
Seorang penumpang diduga telah terjangkit virus tersebut sebelum menaiki kapal di Argentina dan menularkannya kepada orang lain saat kapal melintasi Atlantik. Operator kapal, Oceanwide Expeditions yang berbasis di Belanda, menyatakan bahwa empat penumpang yang sakit telah dievakuasi dari kapal secara bertahap. Pihak operator juga mengonfirmasi bahwa saat ini tidak ada individu dengan gejala di atas kapal yang tengah berlayar menuju Tenerife, Spanyol.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) menyarankan dua orang yang kembali ke Inggris dari kapal tersebut untuk melakukan isolasi mandiri, meskipun mereka tidak menunjukkan gejala dan risiko bagi publik dinilai sangat rendah. Sementara itu, pejabat di Argentina berencana melakukan pengujian terhadap tikus di kota pesisir Ushuaia, tempat kapal tersebut berangkat pada 1 April.
Kasus pertama melibatkan seorang pria asal Belanda yang meninggal di atas kapal pada 11 April. Jenazah pria tersebut diturunkan di Pulau Saint Helena pada 24 April, di mana 29 penumpang lainnya juga turun dari kapal. Pihak operator menyatakan telah menghubungi semua tamu dan tengah mendata detail seluruh penumpang serta kru yang melakukan perjalanan sejak 20 Maret.
Kekhawatiran meningkat setelah istri dari pria yang meninggal tersebut jatuh sakit dan wafat di Afrika Selatan 15 hari kemudian, setelah mendampingi jenazah suaminya. Hasil tes pada 4 Mei mengonfirmasi hantavirus sebagai penyebab kematiannya. Pejabat Argentina menyebut pasangan itu sempat mengunjungi Chili, Uruguay, dan Argentina sebelum memulai perjalanan kapal pesiar.
Wanita asal Belanda tersebut sempat melakukan penerbangan komersial dari Saint Helena ke Johannesburg saat menunjukkan gejala. Otoritas kini melacak orang-orang dalam penerbangan tersebut, yang menurut maskapai Airlink mengangkut 82 penumpang dan enam kru. Seorang penumpang asal Jerman juga dilaporkan meninggal dunia pada 2 Mei, dan jenazahnya masih berada di atas kapal.
(Kelvin Yurcel)