Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Akhamd Muzaki. ANTARA/Nirkomala
BPBD Kota Mataram Imbau Warga Pesisir Waspada Siklon Tropis dan Rob Ekstrem
Whisnu Mardiansyah • 8 January 2026 10:22
Mataram: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengimbau masyarakat pesisir meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini terkait potensi cuaca ekstrem dan fenomena rob (genangan air laut) yang diprakirakan mencapai puncaknya pada periode Februari-Maret 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Akhamd Muzaki, menjelaskan dasar imbauan tersebut. Hal ini merujuk pada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai siklon tropis yang berpotensi melanda hampir seluruh perairan NTB, termasuk pesisir Kota Mataram.
"Dengan kondisi itu, kami mengimbau nelayan agar tetap waspada terhadap karakter cuaca laut yang bisa saja berubah kapan saja," kata Akhamd Muzaki di Mataram, Kamis, 8 Januari 2026.
Pada prinsipnya, pihaknya tidak melarang aktivitas melaut. Namun, para nelayan harus selalu memperhatikan kondisi cuaca meskipun mereka dinilai lebih memahami karakteristik laut.
Berdasarkan data yang dihimpun, wilayah Ampenan, Kota Mataram, diprediksi menghadapi gelombang dengan ketinggian 0,5 hingga 1,25 meter. Sementara itu, wilayah pesisir selatan NTB berpotensi mengalami gelombang lebih tinggi, mencapai 1,25-2,5 meter.
Kondisi ini, kata Muzaki, dapat diperparah dengan ancaman hujan yang disertai angin kencang secara tiba-tiba. Hal tersebut merupakan dampak dari kondisi cuaca di kabupaten-kabupaten sekitar Mataram.
Fenomena rob di sejumlah wilayah pesisir juga menjadi perhatian serius. Kawasan seperti Bintaro, Pondok Perasi, Kampung Bugis, hingga Mapak dilaporkan mengalami arus rob yang semakin deras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Hal itu dipicu oleh abrasi dan pengaruh siklon tropis yang berembus dari Samudera Hindia di bagian selatan," jelas Muzaki.

Ilustrasi - Sebagian pedestrian di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali, ambles akibat diterjang ombak tinggi, Kamis (1/1/2026) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Menghadapi puncak ancaman hidrometeorologi basah ini, Pemerintah Kota Mataram telah mengambil langkah antisipatif. Tim desa tangguh bencana (destana) di delapan kelurahan di kawasan pesisir telah diaktifkan.
Kebijakan ini sesuai dengan instruksi Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana. Seluruh jajaran camat, lurah, dan lingkungan diminta untuk melakukan pemantauan ekstra di wilayah masing-masing.
"Selain itu, semua posko bencana di tingkat kelurahan dan kecamatan juga harus aktif serta siaga untuk antisipasi serta mengurangi risiko dampak bencana," tegas Akhamd Muzaki.