Resmi! Bulgaria Akhirnya Menggunakan Euro sebagai Mata Uang

Bulgaria resmi masuk ke dalam negara-negara Uni Eropa yang menggunakan mata uang Euro. Foto: Tradewinds

Resmi! Bulgaria Akhirnya Menggunakan Euro sebagai Mata Uang

Muhammad Reyhansyah • 1 January 2026 16:16

Sofia: Bulgaria, negara termiskin di Uni Eropa, resmi menjadi anggota ke-21 Zona Euro, melampaui negara-negara yang secara ekonomi dianggap lebih siap seperti Polandia, Republik Ceko, dan Hungaria.

Bagi kalangan muda, urban, dan berjiwa wirausaha, langkah ini dipandang sebagai tonggak optimistis yang berpotensi membawa keuntungan ekonomi. Adopsi euro dinilai sebagai fase akhir integrasi Bulgaria ke arus utama Eropa, setelah bergabung dengan NATO, Uni Eropa, kawasan Schengen, dan kini zona mata uang tunggal.

Namun, sentimen berbeda muncul di kalangan masyarakat yang lebih tua, tinggal di pedesaan, dan berhaluan konservatif. Penggantian mata uang lev dengan euro memunculkan kekhawatiran dan penolakan emosional. 

Lev, yang berarti singa, telah menjadi mata uang nasional Bulgaria sejak 1881, meski sejak 1997 nilainya dipatok terhadap mata uang Eropa yang awalannya Deutschmark Jerman, kemudian euro.

Perpecahan Sikap Publik

Survei opini menunjukkan populasi Bulgaria yang berjumlah sekitar 6,5 juta jiwa terbelah hampir seimbang dalam menyikapi adopsi euro. Situasi ini diperumit oleh ketidakstabilan politik yang berkepanjangan.

Pemerintahan koalisi Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov kehilangan mosi tidak percaya pada 11 Desember, menyusul demonstrasi besar-besaran menentang anggaran 2026. Dalam empat tahun terakhir, Bulgaria telah menggelar tujuh pemilu, dan pemilu kedelapan diperkirakan akan berlangsung awal tahun depan.

“Saya tidak menginginkan euro, dan saya tidak suka cara mata uang ini dipaksakan kepada kami,” kata Todor, 50 tahun, pemilik usaha kecil di Gabrovo, kota di Bulgaria tengah, dikutip dari laporan BBC, Kamis, 1 Januari 2026. 

Ia meyakini, “Jika ada referendum, saya rasa 70% masyarakat akan menolaknya.”

Gagasan referendum adopsi euro memang sempat diajukan Presiden Rumen Radev, tetapi ditolak oleh pemerintahan sebelumnya. Todor mengatakan bisnisnya yang memproduksi plastik berwarna untuk pasar domestik terpukul akibat inflasi tinggi, dan ia menilai penurunan penjualan dipicu ketakutan publik terhadap euro.

Sebaliknya, Ognian Enev, 60 tahun, pemilik kedai teh di pusat Sofia, menyambut perubahan tersebut dengan lebih tenang. “Secara umum ini hal yang baik. Ini hanya perubahan teknis. Tidak mengganggu saya,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat Bulgaria sebenarnya sudah terbiasa dengan harga dalam euro, terutama untuk pembelian besar seperti properti dan kendaraan. Selain itu, sekitar 1,2 juta warga Bulgaria yang tinggal di luar negeri telah lama mengirimkan uang ke tanah air dalam euro.

Seperti banyak pedagang lain, Ognian telah menyiapkan koin dan pecahan kecil euro untuk masa transisi. Sepanjang Januari, pembayaran masih dapat dilakukan menggunakan lev dan euro, meski kembalian wajib diberikan dalam euro. Mulai 1 Februari, lev tidak lagi diterima sebagai alat pembayaran.

Ia berharap penggunaan mata uang tunggal akan mempermudah perdagangan. Banyak teh beraroma dan teh buah yang dijualnya berasal dari negara zona euro, sementara produk premium diimpor langsung dari Tiongkok dan Jepang.


Euro Ubah Lanskap Bulgaria

Sejak Agustus 2025, seluruh toko di Bulgaria diwajibkan mencantumkan harga dalam dua mata uang. 

Nilai tukar yang relatif sederhana, satu euro setara sekitar dua lev dianggap memudahkan transisi. Untuk meredam kekhawatiran publik soal pembulatan harga, pemerintah membentuk mekanisme pengawasan khusus. Bahkan, beberapa tarif justru diturunkan, termasuk biaya transportasi umum di Sofia yang direncanakan sedikit lebih murah.

Desain sisi belakang koin euro Bulgaria juga dipilih untuk menjawab kekhawatiran tentang hilangnya kedaulatan nasional. 

Koin €1 menampilkan Santo Ivan dari Rila, sementara koin €2 menampilkan Paisius dari Hilendar, tokoh kebangkitan nasional abad ke-18. Koin pecahan kecil eurocent menampilkan Penunggang Madara, simbol awal kenegaraan Bulgaria dari relief batu abad ke-8.

Dampak jangka panjang euro terhadap Bulgaria masih menjadi tanda tanya besar. Pengalaman negara lain menunjukkan dua kemungkinan: “model Baltik” yang sukses, seperti Estonia, Latvia, dan Lituania, yang memadukan euro dengan reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi; atau “model Italia”, yang diwarnai stagnasi ekonomi berkepanjangan.

“Saya khawatir kami akan lebih mirip Italia,” pungkas Ognian Enev menutup pandangannya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)