Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jayapura Sulaiman. ANTARA/HO-Stasiun Klimatologi BMKG Jayapura
Papua Selatan Masuk Kemarau Panjang, BMKG Waspadai Karhutla
Whisnu Mardiansyah • 18 June 2026 11:53
Jayapura: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mengeluarkan peringatan dini terkait potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengintai Provinsi Papua Selatan. Peringatan ini disampaikan menyusul prediksi musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jayapura, Sulaiman, menjelaskan wilayah Papua Selatan telah memasuki periode musim kemarau sejak Mei lalu. Kondisi ini diperburuk oleh masih adanya pengaruh El Nino yang secara signifikan mengurangi tingkat curah hujan di daerah tersebut.
"Diprediksi akan ada titik-titik panas atau spot yang memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Papua Selatan," ujar Sulaiman di Jayapura, seperti dilansir Antara, Kamis, 18 Juni 2026.
Berdasarkan pemetaan BMKG, sejumlah wilayah yang berpotensi memunculkan titik api antara lain Kabupaten Merauke, meliputi wilayah Merauke, Sota, Wanam, dan Tanah Miring. Selain itu, potensi serupa juga terdeteksi di Kabupaten Mappi, khususnya di sekitar kawasan Keppi.
Menyikapi hal tersebut, Sulaiman mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan agar warga berhati-hati saat membakar sampah di pekarangan rumah. Api dari pembakaran kecil dapat dengan mudah membesar dan merembet ke lahan kering di sekitarnya, memicu kebakaran yang lebih luas.
Selain risiko kebakaran, masyarakat juga diingatkan untuk menghemat penggunaan air bersih. BMKG memprediksi musim kemarau akan berlangsung cukup panjang, yakni hingga bulan Desember mendatang, sehingga ketersediaan air tanah dipastikan akan menurun drastis.

Kondisi Karhutla di Provinsi Riau. MI
"Saat musim kemarau, debit air diprediksi akan berkurang seiring dengan berkurangnya curah hujan," tambah Sulaiman di lokasi yang sama.
Para petani diharapkan untuk segera beradaptasi dengan kondisi ini. Pemilihan jenis tanaman yang tahan terhadap musim kemarau dinilai penting agar hasil panen tetap optimal meskipun menghadapi cuaca ekstrem.