Karhutla di Kabupaten Musi Banyuasin. ANTARA/HO-BPBD Muba
BPBD Sumsel Catat 154 Kejadian Karhutla, PALI Jadi Wilayah Terbanyak
Lukman Diah Sari • 15 June 2026 21:18
Palembang: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan mencatat sebanyak 154 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan luas lahan terbakar mencapai 305,39 hektare selama periode 1 Januari hingga 13 Juni 2026.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi di Sumatera Selatan sepanjang tahun ini.
“Berdasarkan rekapitulasi kejadian karhutla hingga 13 Juni 2026, terdapat 154 kejadian dengan total luas lahan terbakar mencapai 305,39 hektare,” kata Sudirman di Palembang, Senin, 15 Juni 2026, melansir Antara.
Ia menjelaskan Kabupaten PALI mencatat 42 kejadian karhutla yang tersebar di lima kecamatan, yakni Talang Ubi sebanyak 12 kejadian, Penukal 11 kejadian, Penukal Utara sembilan kejadian, Abab enam kejadian, dan Tanah Abang empat kejadian.
Sedangkan, Kabupaten Muara Enim, karhutla paling banyak terjadi di Kecamatan Gelumbang sebanyak lima kejadian dan Kecamatan Lembak empat kejadian. Sejumlah kecamatan lainnya seperti Lubai, Kelekar, dan Rambang Niru masing-masing mencatat dua kejadian.
Selain itu, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) mencatat 16 kejadian, Ogan Ilir 12 kejadian, Ogan Komering Ulu (OKU) 10 kejadian, Banyuasin delapan kejadian, Musi Rawas tujuh kejadian, serta Kota Palembang dan Kota Prabumulih masing-masing enam kejadian.
.jpg)
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Dok. MGN.
Untuk Kota Palembang, kejadian karhutla tercatat terjadi di Kecamatan Alang-Alang Lebar sebanyak tiga kejadian, Ilir Barat I dua kejadian, dan Seberang Ulu II satu kejadian. Adapun daerah lain yang tercatat mengalami karhutla yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak tiga kejadian, OKU Timur dua kejadian, dan Kota Lubuk Linggau satu kejadian.
Sudirman mengatakan, sebagian besar kejadian karhutla masih terkonsentrasi di wilayah tengah dan timur Sumatera Selatan sehingga memerlukan pengawasan serta upaya pencegahan yang lebih intensif menjelang puncak musim kemarau. BPBD Sumsel bersama instansi terkait terus melakukan patroli, pemantauan titik panas, sosialisasi kepada masyarakat, serta menyiagakan personel dan peralatan guna mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.
“Kami terus meningkatkan langkah pencegahan dan kesiapsiagaan agar kejadian karhutla tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas saat memasuki musim kemarau,” kata Sudirman.