Serangan di Iran, 31 Maret 2026. (X/Vahid Online)
AS Kembali Serang Iran, Apa Alasannya?
Riza Aslam Khaeron • 11 June 2026 10:45
Jakarta: Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan 'serangan keras' terhadap Iran pada Rabu, 10 Juni 2026. Langkah ini terjadi usai rentetan peristiwa di lokasi konflik, mulai serangan Israel ke Beirut, serangan Iran ke Israel utara, hingga serangan Iran terhadap helikopter Apache milik Amerika Serikat (AS).
Namun, serangan yang dilabeli sebagai aksi 'pembelaan diri' tersebut, diklaim bukan merupakan kelanjutan dari Operasi Epic Fury yang dilancarkan AS pada 28 Februari 2026 lalu."Kita tidak perlu mengulanginya lagi," ujar Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, kepada para jurnalis di markas Komando Sentral AS di Tampa, Florida, pada 10 Juni 2026 waktu setempat.
Ia pun menegaskan bahwa serangan baru-baru ini merupakan bagian dari upaya untuk mendesak tercapainya kesepakatan nuklir. Operasi militer ini diklaim tidak melibatkan Israel.
"Anda bisa melihat ketika seseorang hanya mencoba mengulur-ulur waktu dalam suatu kesepakatan. Alih-alih mendapatkan kesepakatan, mereka justru akan mendapati bom yang terus berjatuhan di fasilitas-fasilitas penting di Iran," tegas Hegseth.
Lantas, apa sebenarnya alasan AS kembali menyerang Iran? Berikut ini ulasannya.
Negosiasi Kesepakatan Nuklir yang Mandek

Presiden AS Donald Trump berbicara kepada pers di Ruang Oval Gedung Putih, di Washington, D.C. (EFE/EPA/Aaron Schwartz)
Sehari sebelum AS melancarkan serangan udara ini, Washington telah lebih dulu melakukan serangan balasan atas penembakan jatuh helikopter mereka oleh Iran. Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan kembali menyerang Iran dengan 'sangat keras'.
Trump menuduh Iran mempermainkan Amerika dalam negosiasi perdamaian yang membahas berbagai isu krusial. Antara lain, program nuklir, sanksi ekonomi terhadap Iran, hingga stabilitas Selat Hormuz yang mandek sejak gencatan senjata pertama kali diumumkan pada April lalu.
| Baca Juga: AS Lakukan Serangan Tambahan ke Iran, Sebut sebagai Pertahanan Diri |
Menjelang serangan ini dilancarkan, Channel 12 Israel dan media Axios mengutip pernyataan dua pejabat AS yang menyebutkan bahwa operasi militer ini bertujuan meningkatkan tekanan terhadap Teheran dalam negosiasi damai yang sedang berlangsung. Operasi militer itu juga disebut ingin memaksa Iran segera merespons proposal terbaru Amerika setelah sempat tertunda selama dua minggu.
Menurut laporan media-media tersebut, beberapa jam sebelum melancarkan serangan pada 10 Juni 2026, Gedung Putih sempat berupaya untuk meminta jawaban dari para negosiator Iran terkait proposal terbaru Trump, yang sebenarnya sudah mencakup beberapa konsesi kepada rezim Iran. Namun, upaya itu sama sekali tidak mendapatkan tanggapan.
Sejumlah pejabat Qatar dilaporkan telah mendarat di Teheran pagi ini guna melanjutkan pembicaraan damai dan telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Namun, menurut laporan Channel 12, pihak Iran menolak tawaran untuk menggelar pertemuan trilateral di Doha bersama pejabat Amerika dan Qatar guna membahas kelanjutan negosiasi tersebut.
"Tawaran kesepakatan itu masih ada di meja perundingan, tetapi Presiden siap membuat pihak Iran membayar mahal jika mereka terus menunda-nunda dan mengulur waktu," ungkap seorang pejabat AS, sebagaimana dilaporkan oleh Axios.