Iran Matangkan Persiapan Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Prosesi Enam Hari

Proses pemakaman Ayatollah Ali Khamenei tengah dimatangkan Pemerintah Iran. Foto: Anadolu

Iran Matangkan Persiapan Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Prosesi Enam Hari

Muhammad Reyhansyah • 2 July 2026 12:29

Teheran: Pemerintah Iran tengah mematangkan persiapan menjelang pemakaman kenegaraan mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang akan berlangsung selama hampir sepekan. 

Prosesi penghormatan terakhir bagi mantan Pemimpin Tertinggi Iran itu dijadwalkan dimulai pada 4 Juli di Teheran sebelum berakhir dengan pemakaman di kota suci Mashhad pada 9 Juli. Persiapan dilakukan secara besar-besaran di sejumlah lokasi utama. 

Di Grand Mosalla Teheran, tempat upacara penghormatan dan salat jenazah akan digelar, berbagai fasilitas telah disiapkan, mulai dari panggung utama, area peletakan peti jenazah, layar raksasa, sistem pengeras suara tambahan, hingga dekorasi bernuansa duka berupa bendera hitam dan potret berukuran besar Ayatollah Khamenei.

Mengutip kantor berita resmi Iran, IRNA, Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk Provinsi Teheran, Hassan Hassanzadeh, mengatakan upacara perpisahan akan berlangsung pada 4-5 Juli di Grand Mosalla, dilanjutkan prosesi pemakaman di Teheran pada 6 Juli. 

Rangkaian acara kemudian berlanjut ke kota suci Qom pada 7 Juli sebelum jenazah dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza di Mashhad pada 9 Juli.

Pemerintah Iran juga menetapkan libur nasional selama beberapa hari di Teheran guna mendukung kelancaran rangkaian prosesi tersebut. 

Rekayasa lalu lintas, pengalihan sejumlah ruas jalan, serta penambahan layanan transportasi dan kesehatan darurat turut disiapkan untuk mengantisipasi membludaknya pelayat.

Pengamanan berlapis

Selain persiapan logistik, aspek keamanan menjadi perhatian utama pemerintah Iran.

Aparat keamanan, termasuk IRGC dan pasukan sukarelawan Basij, disiagakan untuk mengamankan seluruh rangkaian prosesi. 

Pengamanan dilakukan di lokasi upacara, sepanjang rute iring-iringan jenazah, hingga kawasan sekitar tempat pemakaman guna mengantisipasi potensi ancaman keamanan maupun kepadatan massa.

Langkah tersebut diambil mengingat pemerintah memperkirakan jutaan warga akan menghadiri prosesi penghormatan terakhir bagi pemimpin yang memimpin Iran selama hampir empat dekade itu. 

Sejumlah pejabat bahkan menyebut jumlah pelayat berpotensi mencapai puluhan juta orang secara nasional selama seluruh rangkaian acara berlangsung, meski angka pasti baru akan diketahui setelah prosesi dimulai.

Pengaturan massa menjadi salah satu fokus utama setelah Iran pernah mengalami tragedi desak-desakan saat prosesi pemakaman Komandan Pasukan Quds, Qasem Soleimani, pada 2020 yang menewaskan puluhan orang. 

Pengalaman tersebut menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyusun jalur evakuasi, pembagian area pelayat, serta sistem pengamanan berlapis untuk prosesi kali ini.

Ditunda karena perang

Pemakaman Ali Khamenei baru digelar lebih dari empat bulan setelah ia tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Penundaan itu dilakukan karena konflik bersenjata yang berlangsung saat itu dinilai belum memungkinkan penyelenggaraan prosesi berskala nasional. 

Selain alasan keamanan, pemerintah juga membutuhkan waktu untuk menyusun rangkaian upacara kenegaraan yang melibatkan beberapa kota suci di Iran.

Dalam tradisi Islam, jenazah umumnya dimakamkan sesegera mungkin setelah meninggal. Namun, kondisi perang dan pertimbangan keamanan membuat Iran menunda pemakaman hingga situasi dinilai lebih kondusif.

Tempat peristirahatan terakhir

Setelah rangkaian penghormatan di Teheran dan Qom selesai, jenazah Ali Khamenei akan dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza di Mashhad.

Pemilihan lokasi tersebut memiliki makna simbolis. Selain merupakan kota kelahiran Ali Khamenei, Mashhad juga menjadi salah satu kota paling suci bagi umat Syiah karena menjadi lokasi Makam Imam Reza, Imam kedelapan dalam tradisi Syiah Dua Belas Imam dan salah satu tujuan ziarah terbesar di dunia Islam.

Iran juga telah mengirim undangan kepada sejumlah negara dan delegasi asing untuk menghadiri pemakaman kenegaraan tersebut, menjadikannya salah satu agenda diplomatik terbesar yang digelar Teheran setelah berakhirnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

(Fajar Nugraha)