Tundukkan Prancis, Spanyol Samai Rekor Italia Tak Terkalahkan di 37 Laga

Timnas Prancis angkat trofi Uero 2024. (RFEF)

Tundukkan Prancis, Spanyol Samai Rekor Italia Tak Terkalahkan di 37 Laga

Riza Aslam Khaeron • 15 July 2026 15:35

Jakarta: Kemenangan gemilang Spanyol dengan skor 2-0 atas Prancis di babak semifinal Piala Dunia 2026 di Dallas pada Selasa, 14 Juli 2026 waktu setempat, tidak hanya mengantarkan La Roja ke partai puncak.

Skuad asuhan Luis de la Fuente juga berhasil memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi 37 pertandingan di semua kompetisi resmi, dengan rincian 28 kemenangan dan 9 hasil imbang, rekor terpanjang sepanjang masa, menyetarai rekor Italia.

Rentetan hasil luar biasa ini dimulai setelah Spanyol menelan kekalahan tipis 0-1 dalam laga persahabatan melawan Kolombia di Stadion Olimpiade London pada tanggal 22 Maret 2024. Sejak kekalahan tersebut, Spanyol tak terkalahkan di semua ajang, dari laga persahabatan internasional, UEFA Nations League, Euro 2024, hingga putaran final Piala Dunia 2026 saat ini.

Pencapaian ini resmi menyamai rekor “tak tersentuh” milik timnas Italia di bawah asuhan Roberto Mancini, yang mengukir 37 pertandingan tanpa kekalahan beruntun antara Oktober 2018 hingga September 2021.

Sebelum menumbangkan Prancis, Spanyol sempat menyamai rekor 36 pertandingan tak terkalahkan milik Argentina (yang diukir antara Juli 2019 hingga November 2022 di bawah asuhan Lionel
Scaloni saat mereka menjuarai Copa América 2021 dan Piala Dunia 2022) setelah mengalahkan Belgia 2-1 di babak perempat final Piala Dunia 2026.

Kini, kemenangan atas Prancis resmi membawa Spanyol melampaui Argentina dan sejajar dengan Italia di puncak sejarah sepak bola Eropa. Perbandingan rekor tak terkalahkan terpanjang di Eropa, yakni:

  • Italia — 37 pertandingan (2018–2021)
  • Spanyol — 37 pertandingan (2024–sekarang)
  • Argentina — 36 pertandingan (2019–2022)
     

Delapan Kemenangan Beruntun di Fase Gugur

Selain itu, Spanyol resmi menjadi negara Eropa pertama dalam sejarah sepak bola yang berhasil mengemas delapan kemenangan beruntun di fase gugur (knockout) pada turnamen utama (Piala Dunia FIFA dan Kejuaraan Eropa UEFA).

Melansir Times of India, sebelum era kepelatihan Luis de la Fuente, rekor kemenangan fase gugur beruntun terbaik oleh negara Eropa hanya mentok di angka tujuh pertandingan. Catatan tersebut sebelumnya dipegang bersama oleh generasi juara Piala Dunia Italia (1934–1938) serta era keemasan Spanyol sendiri pada periode 2008–2012.

Rentetan delapan kemenangan beruntun di fase gugur ini dimulai dari gelaran Euro 2024, di mana Spanyol sukses menyingkirkan Georgia di babak 16 besar, Jerman di perempat final, Prancis di semifinal, hingga menundukkan Inggris di partai final demi meraih gelar juara Eropa dengan rekor sempurna, tujuh kemenangan dari tujuh pertandingan.

Dominasi tersebut berlanjut ke panggung Piala Dunia 2026. dengan kemenangan atas Austria di babak 32 besar, Portugal di babak 16 besar, Belgia di perempat final, dan kini Prancis di babak semifinal.

Belum pernah ada satu pun tim nasional pria di Eropa yang mampu mempertahankan konsistensi seperti ini di fase gugur pada dua turnamen terakbar di dunia.
 

Adu Penalti Tidak Dihitung


Timnas Portugal dengan trofi UEFA Nations League 2024-2025 (Instagram/@cristiano)

Meskipun catatan rekor ini sangat mengagumkan, sempat muncul perdebatan di kalangan pencinta sepak bola mengenai keabsahan rekor tak terkalahkan tersebut. Hal ini merujuk pada momen ketika Spanyol dikalahkan oleh Portugal melalui adu penalti dengan skor 5-3 setelah bermain imbang 2-2 pada laga final UEFA Nations League musim 2024–2025.

Hasil dramatis tersebut mengantarkan Cristiano Ronaldo dkk keluar sebagai juara, sekaligus menjadikan Portugal sebagai negara pertama yang memenangkan trofi UEFA Nations League sebanyak dua kali.

Namun, jika merujuk pada regulasi resmi Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), sesi adu penalti dilakukan murni sebagai metode untuk menentukan tim mana yang berhak lolos atau menjadi juara pascapertandingan selesai.

Ketika kedua tim mencatatkan skor yang sama setelah waktu normal (ditambah babak perpanjangan waktu jika berlaku), pertandingan tersebut secara statistik resmi dicatat sebagai hasil imbang (draw). Dengan demikian, status tak terkalahkan Spanyol dalam waktu bermain reguler tetap sah secara hukum sepak bola internasional.
 
Baca Juga:
Kata-kata Pelatih hingga Pemain Spanyol Usai Mengalahkan Prancis
 

Satu Kemenangan untuk Jadi Nomor 1

Potensi kemenangan di laga final nanti tidak hanya akan membawa trofi Piala Dunia kedua bagi Spanyol sejak kejayaan mereka di tahun 2010, tetapi juga akan membawa mereka melampaui pencapaian Italia, menempatkan nama Spanyol sendirian di puncak tertinggi sebagai pemilik rekor tidak terkalahkan terpanjang yang pernah diukir oleh tim nasional pria di tanah Eropa.

Calon lawan mereka di laga puncak akan ditentukan melalui pertandingan semifinal kedua yang mempertemukan Argentina dan Inggris.

(Riza Aslam Khaeron)