Trump Akan Hubungi Putin soal Kematian Teknisi Lab yang Diduga Terjangkit Wabah Pes

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

Trump Akan Hubungi Putin soal Kematian Teknisi Lab yang Diduga Terjangkit Wabah Pes

Muhammad Reyhansyah • 7 October 2026 08:58

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan segera berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait laporan kematian seorang teknisi laboratorium yang diduga terinfeksi pes di wilayah Irkutsk, Siberia.

Pernyataan itu disampaikan ketika Washington mendesak Moskow untuk lebih transparan mengenai kasus yang dilaporkan terjadi di sebuah lembaga antipes tersebut.

“Saya sudah dijadwalkan melakukan pembicaraan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih ketika ditanya apakah dirinya telah berbicara dengan Putin mengenai kasus tersebut. Trump menambahkan pembicaraan akan berlangsung “sangat segera.”

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta Rusia membuka informasi lebih banyak mengenai insiden tersebut.

“Kami mendorong Rusia untuk transparan dan berbagi lebih banyak informasi dengan dunia sehingga kita semua dapat merespons secara tepat dan sesuai,” ujar Rubio dalam kunjungannya ke Islandia, dikutip dari France24, Rabu, 7 Oktober 2026.

Rubio menambahkan bahwa respons Washington akan ditentukan berdasarkan informasi yang diperoleh mengenai kasus tersebut.

AS Desak Rusia Transparan

The Wall Street Journal melaporkan Departemen Luar Negeri AS telah mengirim komunikasi diplomatik rahasia yang dikenal sebagai demarche kepada Rusia. Pesan tersebut memperingatkan bahwa kegagalan Moskow mengungkapkan informasi terkait kasus itu bertentangan dengan kewajiban kesehatan internasional.

Laporan mengenai insiden tersebut bermula dari kematian seorang teknisi laboratorium berusia 28 tahun bernama Darya Shipilova. Media Rusia, People of Baikal melaporkan pada Jumat bahwa Shipilova kemungkinan tertular pes pneumonik akibat pecahnya tabung uji.

Sejumlah media lainnya juga melaporkan kemungkinan hubungan antara kematian Shipilova dan kecelakaan laboratorium di fasilitas tersebut. People of Baikal menyebut hingga 200 orang yang kemungkinan melakukan kontak dengan korban berada dalam karantina.

Namun, otoritas Rusia menegaskan penyebab kematian Shipilova belum terkonfirmasi. Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, juga membantah klaim dalam sebuah dokumen yang beredar daring mengenai penerapan langkah-langkah khusus.

“Kami ingin mengklarifikasi bahwa dokumen dan informasi yang dimaksud tidak berasal dari sumber resmi dan tidak benar,” kata Rospotrebnadzor melalui Telegram.

Pejabat Rusia mengatakan pemeriksaan setelah kematian tidak mendeteksi penyakit tersebut.

Gubernur Irkutsk Igor Kobzev mengatakan pemeriksaan Rospotrebnadzor menemukan bahwa Shipilova meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang masih “belum ditentukan.”

“Tidak ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan profesional perempuan muda tersebut dalam sampel biologisnya,” kata Kobzev. Ia menambahkan tidak ada staf lain di lembaga tersebut yang menjalani perawatan medis sejak kematian Shipilova.

WHO Pantau Situasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan informasi terbaru yang diterimanya dari Rusia menyebut tidak ada kasus penyakit tersebut yang tercatat di Kota Irkutsk.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pertukaran informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional diperlukan untuk mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan dan menilai potensi risiko kesehatan masyarakat.

Menurut WHO, Rusia telah melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kasus pneumonia yang didapat dari komunitas pada seorang pegawai lembaga antipes di Irkutsk. Rusia juga telah mengidentifikasi orang-orang yang melakukan kontak dengan korban dan mengatur pemantauan medis serta pemeriksaan laboratorium.

“Hasil tes menunjukkan tidak adanya patogen penyakit menular berbahaya pada orang-orang yang melakukan kontak,” demikian informasi Rusia yang disampaikan WHO.

WHO menyebut risiko bagi Irkutsk berada pada tingkat “sedang hingga rendah” berdasarkan informasi yang tersedia. Juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan badan tersebut terus memantau situasi.

Pes merupakan penyakit bakteri yang dapat muncul dalam beberapa bentuk, termasuk pes pneumonik yang merupakan jenis paling menular dan dapat menyebar melalui saluran pernapasan. Sementara itu, pes bubonik umumnya ditularkan melalui kutu yang terinfeksi.

WHO menyebut pes pneumonik dapat menyebabkan kegagalan paru-paru dan berakibat fatal jika tidak ditangani sejak dini.

Rusia Tawarkan Bantuan

Trump sebelumnya mengatakan siap membantu Rusia jika diperlukan. Namun, Rospotrebnadzor pada Selasa menyatakan Rusia juga siap membantu Amerika Serikat menangani wabah penyakit menular di negaranya.

Rospotrebnadzor menyoroti situasi campak yang disebut semakin memburuk di tiga negara bagian AS, serta kasus pes yang berujung kematian di New Mexico pada Juni.

Sementara itu, konferensi internasional mengenai pes dan penyakit menular lainnya dijadwalkan berlangsung di Irkutsk pada 21–22 Oktober. Penyelenggara menegaskan acara tersebut tidak berkaitan dengan kematian terbaru seorang pegawai lembaga antipes.

(Fajar Nugraha)