Ilustrasi pohon kelapa. Dok. Istimewa.jpg
Pabrik Pengolahan Kelapa bakal Dibangun di NTB untuk Dorong Hilirisasi
Achmad Zulfikar Fazli • 4 November 2026 17:40
Jakarta: Pabrik pengolahan kelapa bakal dibangun di Nusa Tenggara Barat (NTB). Rencana investasi itu diarahkan untuk memperkuat hilirisasi kelapa, meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan, dan membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.
Pendiri Yayasan JHL Merah Putih Kasih Jerry Hermawan Lo mengatakan realisasi pembangunan pabrik membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama dalam memperluas areal perkebunan dan meremajakan tanaman kelapa untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri.
”Saya sudah berjanji kepada Pak Gubernur (Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal), tolong lakukan replanting kelapa sebanyak mungkin. Nanti kelompok usaha saya akan membangun pabrik di sini. Itu janji saya,” kata Jerry dalam keterangan tertulis, Rabu, 4 November 2026.
Komitmen tersebut sebelumnya disampaikan Jerry saat penyerahan Beasiswa Kelapa 2026 oleh Yayasan JHL Merah Putih Kasih kepada 100 mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), Senin, 2 November 2026. Kegiatan itu dihadiri Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Rektor Unram Sukardi, serta jajaran akademisi dan mahasiswa.
Menurut Jerry, pembangunan pabrik di NTB bagian dari ekspansi industri pengolahan kelapa yang dikembangkan kelompok usahanya. Pihaknya telah memiliki tiga pabrik kelapa dan berencana menambah dua pabrik lagi pada 2027, dengan target kapasitas pengolahan mencapai dua juta butir kelapa per hari.

Pendiri Yayasan JHL Merah Putih Kasih Jerry Hermawan Lo. Dok. Istimewa
Jerry menjelaskan, kelompok usahanya mengembangkan konsep Royal Agro Industry, yakni sistem usaha pertanian yang mengutamakan pengolahan hasil panen menjadi produk jadi atau setengah jadi sebelum dipasarkan.
”Dua tahun lalu saya masih berbicara tentang agribisnis. Sekarang konsepnya sudah berubah menjadi Royal Agro Industry. Setiap tanaman yang kami tanam tidak langsung dijual, tetapi diindustrikan terlebih dahulu agar memiliki nilai tambah,” ujar Jerry.
Menurut dia, pendekatan tersebut penting untuk mengubah pola usaha pertanian yang selama ini terlalu bergantung pada penjualan komoditas mentah. Dengan pengolahan industri, nilai ekonomi hasil pertanian dapat meningkat dan membuka peluang pasar yang lebih luas.
Potensi Besar Industri Kelapa
Jerry menilai NTB memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat pengembangan industri kelapa nasional. Apalagi, kelapa memiliki masa produktif yang panjang dan hampir seluruh bagian buahnya dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Dia membandingkan potensi kelapa dengan kelapa sawit. Menurut Jerry, tanaman kelapa relatif lebih sesuai untuk dikembangkan di NTB, karena memiliki masa produktif lebih panjang dan dapat dibudidayakan melalui pola pertanian terpadu.
”Umur produktif kelapa, kalau dirawat dengan baik, bisa mencapai 50 sampai 60 tahun. Jadi, kita tidak perlu iri kepada provinsi yang memiliki perkebunan sawit luas. NTB punya potensi kelapa yang sangat besar,” kata Jerry.
Jerry menjelaskan sabut kelapa dapat diolah menjadi berbagai material bangunan, seperti genteng, papan, dan bahan lantai. Kelompok usahanya telah mengembangkan sejumlah produk berbahan sabut kelapa dan mengajukan perlindungan hak kekayaan intelektual atas inovasi tersebut.
Tempurung kelapa dapat dimanfaatkan menjadi arang dan karbon untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk bahan baku yang berpotensi digunakan dalam teknologi baterai. Sementara itu, daging kelapa dapat diolah menjadi minyak goreng, santan, dan kelapa parut kering (desiccated coconut) untuk industri makanan.
Air kelapa juga memiliki pasar yang luas sebagai minuman maupun bahan baku industri minuman kemasan.
”Produk turunan kelapa itu sangat banyak. Dari sabut, tempurung, daging, sampai airnya, semua bisa menjadi produk industri. Bahkan, arang tempurung kelapa sekarang banyak dicari untuk kebutuhan industri di luar negeri,” ujar Jerry.
Jerry menambahkan meningkatnya permintaan produk berbahan kelapa di pasar internasional seharusnya menjadi peluang bagi Indonesia memperkuat industri pengolahan di dalam negeri. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal bila ketersediaan bahan baku menurun akibat tanaman menua dan kurang terawat.
Jerry mengamati banyak pohon kelapa di sejumlah daerah merupakan tanaman peninggalan generasi sebelumnya. Pohonnya sudah tinggi, berusia tua, dan produktivitasnya semakin rendah.
Dia menekankan pentingnya program peremajaan kelapa secara terencana, termasuk penggunaan bibit unggul dan penerapan teknik budi daya modern.
Dia mencontohkan uji coba penanaman kelapa di lahan seluas 50 hektare di Jailolo, Maluku Utara. Dengan pengolahan lubang tanam sedalam sekitar satu meter serta penggunaan campuran tanah dan bahan organik, menurut Jerry, akarnya cepat berkembang.
”Dalam uji coba kami, kelapa bisa mulai berbuah pada umur tiga tahun,” kata Jerry.
Libatkan Mahasiswa Mengelola Perkebunan
Selain mendorong pembangunan pabrik, Jerry mengusulkan kerja sama antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha untuk mengembangkan perkebunan kelapa yang sekaligus menjadi tempat praktik mahasiswa.Dia mengatakan pemerintah dapat mengupayakan penyediaan lahan melalui skema kerja sama jangka panjang dengan perguruan tinggi. Lahan tersebut kemudian dikelola mahasiswa sebagai bagian dari kegiatan pendidikan dan pengembangan kewirausahaan pertanian.
Jerry mengusulkan penerapan pola tanam tumpang sari. Dengan jarak tanam kelapa sekitar delapan meter, lahan di antara tanaman dapat dimanfaatkan untuk membudidayakan komoditas berumur pendek, seperti kacang panjang, jagung, cabai, dan buncis.
Dengan demikian, mahasiswa tidak perlu menunggu tiga hingga lima tahun untuk memperoleh hasil ekonomi dari perkebunan kelapa.
”Kalau masuk Fakultas Pertanian, hari ini mulai kuliah, besok sudah bisa praktik. Tanam kelapa, lalu di sela-selanya tanam sayuran. Sambil menunggu kelapa berbuah, kita sudah bisa panen,” tutur Jerry.
Jerry menilai kegiatan tersebut dapat menjadi model pembelajaran yang menggabungkan teori, praktik budidaya, pengelolaan usaha, dan pemasaran hasil pertanian.
Jerry juga mengusulkan agar hasil panen mahasiswa dihubungkan dengan pasar yang sudah tersedia, termasuk kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). ”Kepastian pasar akan membantu mahasiswa mengembangkan kegiatan pertanian menjadi usaha yang berkelanjutan,” ujar Jerry.
Jerry mengakui sektor pertanian belum menjadi pilihan utama sebagian generasi muda. Padahal, pertanian modern membutuhkan tenaga terdidik yang menguasai teknologi, manajemen, dan kewirausahaan.
”Kalau kita memiliki petani dengan kemampuan tinggi, sumber daya manusia yang baik, alam yang mendukung, dan infrastruktur yang tersedia, investor akan datang. Tidak perlu selalu mencari peluang bisnis ke luar negeri. Di dalam negeri juga banyak peluang,” jelas Jerry.