BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 di Sumsel Lebih Kering

Cuaca terik di Kota Palembang, Rabu (25/3/2026). ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 di Sumsel Lebih Kering

Lukman Diah Sari • 25 March 2026 19:43

Palembang: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau di Sumatra Selatan pada tahun ini berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Hal tersebut seiring rendahnya curah hujan di sebagian besar wilayah tersebut.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis mengatakan, awal musim kemarau diprediksi terjadi pada Mei hingga Juni 2026. Awal paling dini diperkirakan terjadi pada awal Mei, sementara mayoritas wilayah mulai memasuki musim kemarau pada awal hingga pertengahan Juni.

“Sekitar 29 persen wilayah mulai kemarau pada akhir Mei, dan sekitar 64 persen wilayah lainnya terjadi pada awal sampai pertengahan Juni,” kata Wanda di Palembang, Rabu, 25 Maret 2026, melansir Antara.

Menurut dia, dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020, sebagian besar wilayah Sumatra Selatan mengalami percepatan awal musim kemarau.

“Sekitar 64 persen wilayah mengalami kemajuan hingga dua dasarian atau sekitar 20 hari lebih cepat dari biasanya,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan musim kemarau tahun ini datang lebih awal dari pola normal. Sehingga, sifat musim kemarau 2026 didominasi kondisi bawah normal, yang berarti curah hujan diprediksi lebih rendah dari biasanya.

“Hanya sebagian kecil wilayah yang bersifat normal, selebihnya lebih kering sehingga potensi kekeringan perlu diwaspadai,” jelas dia.


Ilustrasi kekeringan. (MGN/Nur Soli)

Sedangkan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli di sebagian kecil wilayah dan Agustus di mayoritas wilayah Sumatera Selatan. Meski demikian, terdapat variasi waktu puncak di sejumlah daerah, dengan sebagian wilayah mengalami puncak yang sama seperti normal, sebagian lebih maju sekitar satu bulan, dan sebagian lainnya justru mundur lebih dari satu bulan.

“Hal ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik musim antarwilayah di Sumatera Selatan,” kata dia.

Untuk durasi, musim kemarau diperkirakan berlangsung antara tujuh hingga 15 dasarian atau sekitar dua hingga lima bulan. Dengan wilayah bagian tengah Sumatera Selatan berpotensi mengalami durasi terpanjang.

“Durasi di wilayah tengah bisa mencapai 13 hingga 15 dasarian atau sekitar empat hingga lima bulan, ini termasuk cukup panjang untuk wilayah Sumatera,” kata Wandayantolis.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)