Apa Kunci Sukses Pusat Finansial Internasional Indonesia? Ini Penjelasannya

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Apa Kunci Sukses Pusat Finansial Internasional Indonesia? Ini Penjelasannya

Ade Hapsari Lestarini • 4 August 2026 18:05

Jakarta: Keberhasilan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dinilai tidak hanya bergantung pada kemampuan menarik investasi global, tetapi juga kualitas institusi, kepastian hukum, dan kepercayaan investor. Kehadiran PFII juga diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional dan masyarakat.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Indonesia Business Forum yang membahas pembentukan PFII. Forum tersebut menghadirkan Ketua Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto, Wakil Ketua Komisi XI DPR Mohamad Hekal, Ekonom Bank Permata Josua Pardede, serta Chief Economist Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian.

Suroto mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk membangun pusat keuangan internasional. Keunggulan tersebut antara lain berasal dari pasar domestik yang besar, kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, serta tenaga kerja yang kompetitif.

Menurut dia, potensi tersebut harus menjadi nilai pembeda Indonesia dibandingkan pusat keuangan internasional lain, sehingga PFII tidak hanya menjadi magnet investasi, tetapi juga mampu mendorong transformasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas, transfer teknologi, dan penguatan daya saing sektor usaha.

"Kita harus menunjukkan Indonesia punya potensi yang sangat besar. Kita anggota G20, punya pasar yang besar, sumber daya alam melimpah, dan bonus demografi. Itu yang harus menjadi kekuatan utama PFII, bukan sekadar menawarkan insentif," kata Suroto, Selasa, 4 Agustus 2026.

Ia menambahkan, manfaat PFII harus dirasakan secara luas oleh masyarakat. Investasi yang masuk diharapkan menciptakan efek berganda bagi UMKM, membuka lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui transfer pengetahuan dan teknologi.

"Kelompok UMKM harus mendapat multiplier effect dari PFII. Jangan sampai kita mengabaikan dampak sosialnya," ujar dia.


Ilustrasi. Foto: Medcom.id

 

 

Indonesia perlu mengadopsi praktik terbaik dari berbagai pusat keuangan internasional


Sementara itu, Chief Economist Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai keberhasilan PFII hanya dapat dicapai apabila didukung kualitas institusi, kepastian hukum, pelayanan berstandar internasional, dan kepercayaan investor.

Menurut dia, Indonesia perlu mengadopsi praktik terbaik dari berbagai pusat keuangan internasional dengan tetap menyesuaikannya dengan karakteristik nasional. Daya tarik investasi, kata dia, tidak hanya ditentukan insentif fiskal, tetapi juga kepastian regulasi, kemudahan berusaha, kualitas layanan, serta mekanisme penyelesaian sengketa yang kredibel.

Karena itu, pemberian insentif seperti tax holiday tidak dapat menjadi satu-satunya strategi menarik investor global. PFII juga harus didukung ekosistem jasa keuangan yang lengkap, mulai dari perbankan investasi, pengelolaan kekayaan (wealth management), firma hukum internasional, hingga tenaga profesional berstandar global.

"Kita harus menjawab kenapa investor harus pindah dari Dubai ke PFII. Trust jauh lebih penting. Insentif itu bisa jadi tidak relevan kalau trust-nya tidak terbentuk," ujar Fakhrul.

(Ade Hapsari Lestarini)