Copernicus mencatat suhu permukaan laut global di luar wilayah kutub mencapai rekor tertinggi untuk bulan Juni 2026. (Anadolu Agency)
Copernicus: Suhu Permukaan Laut Dunia Pecahkan Rekor Baru pada Juni 2026
Willy Haryono • 1 July 2026 22:01
Brussel: Suhu permukaan laut dunia di luar wilayah kutub mencapai rekor tertinggi untuk bulan Juni pada 21 Juni 2026, menurut data dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus, yang menyebut kondisi ini melampaui rekor pada periode sama di tahun 2023 dan 2024.
Copernicus memperingatkan kenaikan suhu tersebut berpotensi memengaruhi pola cuaca, iklim global, dan ekosistem laut. Kondisi ini juga diperkirakan bertepatan dengan fase awal fenomena El Niño yang diproyeksikan menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.
Dilansir dari media The Guardian, Rabu, 1 Juli 2026, rekor sebelumnya pada Juni 2023 telah memicu gelombang panas, banjir, dan badai di berbagai belahan dunia.
Kini, suhu kembali meningkat, ditandai dengan gelombang panas yang melanda Inggris dan sejumlah negara Eropa, sementara Antarktika mengalami musim dingin yang jauh lebih hangat dari biasanya.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa suhu lautan menjadi indikator penting perubahan iklim karena laut menyerap lebih dari 90 persen kelebihan energi di Bumi yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak, batu bara, dan gas. Akumulasi energi panas di lautan terus meningkat sehingga laju pemanasan laut semakin cepat dari tahun ke tahun.
Direktur Copernicus di Pusat Eropa untuk Prakiraan Cuaca Jangka Menengah (ECMWF), Carlo Buontempo, mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah kenaikan suhu ini bersifat sementara atau akan semakin memburuk.
Namun, ia memperingatkan, "Dengan suhu laut berada pada tingkat seperti sekarang dan El Niño yang mulai terbentuk, kemungkinan besar kita akan melihat lebih banyak rekor suhu terpecahkan dalam beberapa bulan mendatang."
Para ilmuwan juga mengingatkan puncak suhu permukaan laut umumnya terjadi pada Juli dan Agustus. Karena itu, perkembangan beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu apakah dunia kembali menghadapi gelombang cuaca ekstrem yang lebih parah. (Keysa Qanita)
Baca juga: Gelombang Panas Lelehkan Jalan Aspal di Nuremberg Jerman, Layanan Trem Dihentikan