Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadl Zon. Foto: Metrotvnews.com/Vania Liu.
Pertahankan Harga BBM Subsidi Dinilai Tepat Jaga Inflasi dan Daya Beli
Vania Liu • 8 April 2026 14:00
Jakarta: Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menilai bahwa pemerintah tepat dalam mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah dinamika harga energi global. Kebijakan ini dianggap mampu menjaga stabilitas ekonomi serta melindungi daya beli masyarakat.
“Langkah pemerintah untuk tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi adalah langkah yang sangat tepat karena ini akan menjaga inflasi dan mencegah kenaikan harga-harga lain,” ujar Fadli di Jakarta Pusat, Rabu 8 April 2026.
Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra, jika harga BBM diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar, maka kenaikan harga tidak dapat dihindari. Hal tersebut berpotensi menimbulkan dampak luas bagi masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Eks Wakil Ketua DPR RI menilai kebijakan mempertahankan subsidi merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada rakyat. Kebijakan ini juga disebut berbeda dengan sejumlah negara yang menerapkan harga berdasarkan pasar sehingga mengalami lonjakan signifikan.

Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM). Foto: Istimewa.
Ia juga menilai kebijakan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, stabilitas harga diharapkan dapat terus terjaga di tengah tekanan ekonomi global.
Sebelumnya, Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026 ini. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto di sempat menekankan, kebijakan ini berlaku sepanjang rata-rata harga minyak dunia tak melampaui US$97 per barel.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun. Ia memastikan anggaran negara masih mencukupi untuk menjaga kebijakan tersebut.
Purbaya menyebut, pemerintah telah melakukan berbagai simulasi dengan asumsi harga minyak dunia mencapai US$100 per barel. Dari perhitungan tersebut, defisit anggaran diperkirakan tetap terjaga di kisaran 2,9% terhadap Produk Domestim Bruto (PDB).