Galang Ikhwan Aji Sabda, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Merajut Wajah Baru Pariwisata Pangandaran
18 August 2026 12:44
Oleh: Galang Ikhwan Aji Sabda*
Sebagai primadona pariwisata Jawa Barat, Pangandaran nyaris tidak pernah gagal memanjakan mata para pelancong di bawah terik matahari. Pasir putih, deburan ombak, hingga rimbunnya cagar alam adalah pesan visual yang kuat. Namun, mari kita renungkan sejenak: apa yang terjadi ketika matahari terbenam? Seringkali, narasi pariwisata Pangandaran ikut "tertidur" bersama tenggelamnya ufuk barat.
Dari kacamata Ilmu Komunikasi, sebuah destinasi wisata bukanlah sekadar ruang geografis, melainkan sebuah teks hidup yang terus-menerus memproduksi pesan dan berdialog dengan pengunjungnya. Ketika aktivitas malam hari (night time tourism) di Pangandaran belum digarap dengan narasi yang utuh, kita sebenarnya sedang membuang separuh dari potensi komunikasi destinasi tersebut.
Mengembangkan pariwisata malam di Pangandaran bukan semata-mata perkara memasang lampu hias yang terang atau memperpanjang jam buka kafe, melainkan tentang bagaimana kita mengonstruksi makna dan memanajemen persepsi.
Pentingnya Branding Wisata Terpadu
Dalam komunikasi pariwisata, kita mengenal konsep place branding. Pakar identitas nasional, Simon Anholt, pernah menegaskan, "reputation cannot be constructed; it can only be earned (Reputasi tidak bisa sekadar dibuat; ia harus didapatkan melalui aksi nyata)".
Saat ini, branding Pangandaran sangat kuat sebagai destinasi wisata keluarga di siang hari. Lalu, identitas apa yang ingin ditawarkan saat malam? Jika kita mengamati destinasi global yang sukses dengan ekonomi malamnya, mereka memiliki pesan utama yang jelas. Pangandaran tidak perlu meniru gegap gempita malam di Seminyak, Bali, atau Khao San Road di Thailand.
Pangandaran dapat mengonstruksi branding malamnya sebagai "Ruang Intim Pesisir Selatan". Sebuah perpaduan antara wisata kuliner boga bahari yang tertata estetik, pertunjukan seni budaya lokal (seperti ronggeng gunung atau kesenian pesisir lainnya) yang dikemas secara kontemporer, dan pengalaman susur pantai malam yang berpendar cahaya (lightscape tourism). Pesan yang dikirimkan harus konsisten: Pangandaran di malam hari adalah tentang kehangatan, budaya, dan relaksasi.
Malam sebagai Ruang Interaksi Budaya
Sosiolog pariwisata, John Urry, dalam bukunya The Tourist Gaze, menyatakan, "wisatawan mencari pengalaman yang kontras dengan rutinitas keseharian mereka." Di siang hari, turis bertindak sebagai pengamat aktif. Di malam hari, secara psikologis, manusia lebih terbuka untuk berdialog dan mencari keintiman sosial. Di sinilah night time tourism berfungsi sebagai medium komunikasi antarbudaya (intercultural communication).
Ruang-ruang publik di Pangandaran, seperti alun-alun, taman, atau sentra kuliner, harus didesain menyerupai konsep public sphere (ruang publik) gagasan Jürgen Habermas, sebuah ruang yang setara di mana warga lokal dan wisatawan bisa saling berbaur, bertukar cerita, tanpa ada hierarki. Pengamen lokal yang diberdayakan, panggung akustik yang merespons debur ombak, hingga penataan area makan malam yang komunal adalah bentuk-bentuk komunikasi non-verbal yang akan meninggalkan kesan mendalam (experiential communication).
Membangun Persepsi Aman Wisatawan
Tantangan terbesar dari pariwisata malam adalah bayang-bayang persepsi negatif: rawan kriminalitas, asusila, atau bahaya alam. Dalam teori manajemen krisis dan risiko komunikasi, persepsi adalah realitas itu sendiri (perception is reality). Sehebat apapun atraksi malam yang dibuat, jika wisatawan merasa tidak aman, pesan pariwisata itu akan gagal tersampaikan.
Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan harus melakukan kampanye komunikasi yang masif untuk menanamkan rasa aman. Ini tidak hanya melalui baliho, tetapi dari evidence-based communication. Kehadiran polisi pariwisata yang ramah, penerangan jalan yang memadai tetapi tidak merusak suasana (ambient lighting), dan sistem navigasi/petunjuk arah yang jelas di malam hari adalah bentuk pesan yang secara psikologis menenangkan wisatawan.
Di era digital, komunikasi ini juga harus teramplifikasi di media sosial. Mengutip Marshall McLuhan, "the medium is the message." Jejak digital berupa foto-foto estetik Pangandaran di malam hari yang dibagikan oleh warganet (netizen) di Instagram atau TikTok akan menjadi pesan paling kredibel untuk meyakinkan calon wisatawan lain bahwa malam di Pangandaran itu aman, hidup, dan layak dinikmati.
Jalan Bersama Mewujudkan Wisata Masa Depan
Sebagai akademisi, saya melihat bahwa untuk menghidupkan night time tourism (wisata malam hari) di Pangandaran, tidak cukup hanya mengandalkan monolog dari pemerintah daerah. Diperlukan komunikasi model Pentahelix; dialog yang setara dan sinergis antara pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas atau masyarakat, dan media.
Pangandaran memiliki potensi narasi yang luar biasa luas. Biarkan matahari terbenam menjadi tanda berakhirnya satu cerita, namun sekaligus menjadi prolog bagi cerita lainnya. Mari kita ubah Pangandaran dari sekadar "destinasi transit siang hari" menjadi sebuah ruang komunikasi 24 jam yang hangat, aman, dan berkesan bagi siapa saja yang singgah di berandanya.[]
*Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran