Sinyal Bullish Muncul, Harga Emas Berpeluang Menguat?

Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti

Sinyal Bullish Muncul, Harga Emas Berpeluang Menguat?

Eko Nordiansyah • 4 May 2026 11:33

Jakarta: Harga emas dunia pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026, diperkirakan mulai menunjukkan potensi penguatan setelah sebelumnya bergerak dalam tekanan. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai, pergerakan XAU/USD pada timeframe H1 mengindikasikan adanya peluang perubahan tren dari bearish ke bullish dalam jangka pendek.

Dari sisi teknikal, pergerakan harga emas terlihat mulai tertahan di area support penting di level 4.568. Level ini menjadi titik penahan yang cukup kuat terhadap tekanan jual, sehingga mencegah harga untuk turun lebih dalam. Kondisi ini menjadi salah satu indikasi awal momentum penurunan mulai melemah.

"Selain itu, munculnya pola candlestick bullish engulfing semakin memperkuat sinyal pembalikan arah," kata Geraldo dalam keterangan tertulis, Senin, 4 Mei 2026.

Geraldo menjelaskan, pola ini terbentuk ketika candle bullish menutup lebih tinggi dari candle sebelumnya yang bearish, yang mencerminkan dominasi pembeli mulai mengambil alih pasar. Dalam analisis teknikal, pola ini sering dianggap sebagai sinyal awal terbentuknya tren naik baru.

Pembentukan pola tersebut juga diikuti dengan terbentuknya swing low baru, yang menjadi dasar penting bagi kelanjutan pergerakan harga ke arah atas. Saat ini, harga emas terlihat sedang mengalami koreksi ringan setelah pergerakan awal tersebut. Koreksi ini dinilai sebagai bagian normal dari proses pembentukan tren sebelum melanjutkan kenaikan.

"Dengan kondisi tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas berpotensi bergerak naik menuju area resistance terdekat di kisaran 4.639. Jika momentum penguatan mampu bertahan, maka peluang untuk melanjutkan kenaikan hingga ke level 4.690 semakin terbuka," ungkap dia.



(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Cermati potensi pergerakan harga emas

Meski demikian, Geraldo mengingatkan, pelaku pasar tetap perlu mencermati pergerakan harga di area resistance tersebut. Kenaikan dalam timeframe pendek biasanya memerlukan konfirmasi tambahan agar dapat berlanjut secara konsisten.

"Dari sisi fundamental, potensi penguatan emas juga didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat. Ketika dolar mengalami tekanan, harga emas cenderung mendapatkan dorongan karena menjadi lebih menarik bagi investor global," kata dia.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve yang mulai cenderung lebih dovish turut menjadi faktor penting. Jika pasar melihat peluang penurunan suku bunga atau setidaknya penghentian kenaikan suku bunga, maka emas akan semakin diminati sebagai aset non-yield.

Kondisi imbal hasil obligasi pemerintah AS yang stabil atau cenderung menurun juga memberikan dukungan tambahan. Ketika yield tidak meningkat, biaya peluang dalam memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga mendorong peningkatan permintaan.

"Di sisi lain, meningkatnya ketidakpastian di pasar global juga berperan dalam mendukung harga emas. Dalam situasi yang tidak pasti, investor biasanya mencari aset yang lebih aman, seperti emas, untuk melindungi nilai investasi mereka," ujar dia.

Secara keseluruhan, kombinasi antara sinyal teknikal yang mengarah pada pembalikan tren dan dukungan faktor fundamental memberikan prospek positif bagi harga emas dalam jangka pendek. Selama harga mampu bertahan di atas area support dan momentum beli tetap terjaga, peluang kenaikan menuju level 4.639 hingga 4.690 masih terbuka.

"Namun demikian, pelaku pasar tetap disarankan untuk berhati-hati dan memantau perkembangan kondisi global yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga. Dengan volatilitas yang masih cukup tinggi, pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar emas saat ini," kata Geraldo.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)