Ilustrasi. Foto: Freepik.
Saham BBCA Diborong Direksi Jadi Strategi Buy on Weakness, Apa Itu?
Ade Hapsari Lestarini • 19 April 2026 16:54
Jakarta: Salah satu pedoman berinvestasi yang dinilai jarang meleset saat para "nakhoda kapal" memborong tiket. Hal ini pertanda kapal siap melaju dengan cepat.
Demikian halnya di pasar saham. Alih-alih bersikap defensif, jajaran petinggi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru agresif menyerok saham mereka di tengah fluktuasi pasar awal 2026.
Kondisi ini bukan sekadar transaksi biasa. Ini merupakan eksekusi strategi buy on weakness, yakni membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon. Aksi borong ini menjadi bukti, pihak yang paling memahami kondisi 'dapur' perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.
Melansir laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pada kuartal I-2026, berikut kepemilikan saham direksi dan manajemen BBCA:
- Hendra Lembong (Direktur Utama), kepemilikan saham sebesar 2.666.921 (0,002 persen): menambah amunisi senilai Rp7,93 miliar.
- John Kosasih (Wakil Presiden Direktur), kepemilikan saham sebesar 1.720.729 (0,001 persen): mengeksekusi pembelian senilai Rp4,37 miliar pada Maret 2026.
- Vera Eve Lim (Direktur), kepemilikan saham sebesar 3.281.460 (0,003 persen): merogoh dana segar Rp3,84 miliar untuk mempertebal kepemilikan.
- Santoso (Direktur), kepemilikan saham sebesar 3.764.062: total nilai transaksi Rp3,46 miliar pada Maret 2026.
- Frengky Candra Kusuma (Managing Director), kepemilikan saham sebesar 2.835.916 (0,002 persen): mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar sejak Maret 2025.
- Lianawaty Suwono (Direktur), kepemilikan saham sebesar 3.906.242 (0,003 persen): memborong 300 ribu saham senilai Rp2,1 miliar di akhir Januari 2026 saat pasar sedang bergejolak.
Saham BCA lebih murah dari bank digital
Keyakinan manajemen ini sejalan dengan realitas valuasi sahamnya saat ini. Namun ukuran yang lebih tepat untuk membandingkan saham bank bukan lagi PBV, melainkan PER (Price to Earnings Ratio), karena PER menunjukkan berapa lama investor membayar harga saham dari laba yang dihasilkan perusahaan.
Pengamat pasar modal Rendy Yefta mangatakan saat ini, saham BBCA hanya diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali. Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia.
BCA tercatat mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan bertumbuh cepat. Bahkan bila dibandingkan dari kemampuan memperbesar laba lima kali lipat, secara realistis BCA justru berpotensi mencapainya lebih cepat dibanding bank digital karena basis bisnisnya sudah besar, jaringan kuat, CASA dominan, dan profit terus naik setiap tahun.
"Jadi pertanyaannya sederhana: mengapa bank digital yang masih jauh lebih kecil, labanya lebih rendah, dan risikonya lebih tinggi justru dihargai 64 kali laba, sementara BCA yang jauh lebih mapan hanya dihargai 15 kali laba? Fenomena inilah yang disebut 'salah harga'. Pasar seolah sedang memberi diskon besar kepada saham BBCA. Ketika investor mulai menyadari ketimpangan ini, biasanya yang terjadi adalah valuasi BBCA akan naik kembali menuju level yang lebih wajar," jelas dia, Minggu, 19 April 2026.
Valuasi murah ini dikombinasikan dengan sinyal akumulasi "orang dalam" hanya bermuara pada satu kesimpulan: saham BBCA sedang memasang kuda-kuda untuk rebound kencang. Mengambil BBCA di harga sekarang ibarat membeli properti premium di lokasi terbaik saat sedang dijual diskon.
Jika BBCA kembali dihargai sedikit lebih tinggi, misalnya PER 18-20 kali seperti rata-rata historisnya, maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang. Target menembus Rp10 ribu per lembar dalam beberapa bulan menjadi skenario yang sangat realistis.
Rekor all-time high saham ini pernah nyaris menyentuh Rp11 ribu per lembar. Artinya, ruang kenaikan masih terbuka lebar. Risiko relatif kecil karena fundamentalnya sangat kuat, sementara potensi keuntungannya besar karena valuasinya masih terlalu murah. Kesempatan membeli saham raja perbankan dengan harga "diskon" tidak datang setiap hari. Manajemen sudah memberi sinyal dengan uang miliaran rupiah.