Mana yang Lebih Penting bagi Tiongkok, Hubungan dengan AS atau Rusia?

Presiden Tiongkok Xi Ji Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah pertemuan. Foto: CGTN

Mana yang Lebih Penting bagi Tiongkok, Hubungan dengan AS atau Rusia?

Harianty • 26 August 2026 18:21

Jakarta: Di tengah dinamika hubungan Tiongkok-Amerika Serikat (AS) dan semakin eratnya kemitraan strategis Tiongkok-Rusia, muncul pertanyaan yang kerap menjadi perdebatan: hubungan mana yang lebih penting bagi Tiongkok?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menggelar pertemuan kenegaraan di Beijing pada 14 Mei 2026. Pertemuan tersebut dipandang sebagai sinyal mencairnya hubungan kedua negara setelah beberapa tahun diwarnai ketegangan.

Tidak lama berselang, tepatnya pada 20 Mei 2026, Xi Jinping kembali menerima Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing. Rangkaian pertemuan dengan dua pemimpin negara adidaya itu kembali memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan luar negeri Beijing: apakah Tiongkok lebih mengutamakan hubungan dengan AS atau justru dengan Rusia?

Pandangan yang menilai salah satu hubungan lebih penting tidak mudah disimpulkan. Dalam politik internasional, tidak ada hubungan luar negeri yang memiliki nilai tetap. Tingkat kepentingannya selalu berubah mengikuti perkembangan situasi global dan, yang terpenting, kepentingan nasional suatu negara. Keamanan nasional, kedaulatan, dan pembangunan ekonomi merupakan landasan utama dalam menentukan arah diplomasi.

Sejarah hubungan Tiongkok dengan AS dan Rusia

Sejarah menunjukkan bahwa prioritas diplomasi Tiongkok selalu berubah sesuai tantangan yang dihadapi. Pada awal berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, Beijing memilih bersekutu dengan Moskow untuk menghadapi blokade Barat.

Situasi berubah pada dekade 1960-an ketika hubungan Tiongkok-Moskow memburuk. Beijing menghadapi tekanan sekaligus dari AS dan Rusia, sehingga memperkuat kemampuan pertahanan, termasuk mengembangkan senjata nuklir, demi menjamin keamanan nasional dan mempertahankan kemandirian strategis.

Memasuki dekade 1970-an, ketika Moskow menjadi ancaman bersama bagi Beijing dan Washington, kedua negara mulai menormalisasi hubungan. Kerja sama dengan AS tidak hanya membantu mengurangi tekanan keamanan, tetapi juga mendorong modernisasi industri dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Sejak era reformasi dan keterbukaan, AS menjadi mitra penting dalam perdagangan, investasi, teknologi, dan akses pasar internasional yang turut menopang pertumbuhan ekonomi Tiongkok selama beberapa dekade.

Sebaliknya, hubungan Tiongkok-Rusia pada periode 1990-an hingga awal 2010-an relatif stabil, tetapi belum berkembang menjadi kemitraan strategis yang mendalam. Rusia saat itu masih berupaya mempererat hubungan dengan Eropa dan Barat, sehingga kerja sama dengan Beijing belum menjadi prioritas utama.

Perubahan besar terjadi pada 2014. Krisis Krimea, sanksi Barat terhadap Rusia, serta kebijakan "Pivot to Asia" AS mendorong Tiongkok dan Rusia menghadapi tekanan eksternal yang sama. Sejak saat itu, kerja sama strategis kedua negara berkembang semakin erat, terutama di bidang energi, keamanan, dan diplomasi.

Hubungan tersebut semakin menguat setelah pecahnya konflik Rusia-Ukraina pada 2022. Memburuknya hubungan Rusia dengan Barat mendorong Moskow mempererat kerja sama dengan Beijing. Di tengah meningkatnya persaingan strategis antara Tiongkok dan AS, Rusia dipandang memiliki nilai strategis yang semakin besar bagi Tiongkok, terutama dalam menjamin keamanan energi, memperkuat posisi geopolitik, serta menjadi penyangga strategis terhadap tekanan dari AS dan negara-negara Barat.


Hubungan kemitraan

Meski demikian, hubungan Tiongkok-Rusia tetap memiliki karakter yang berbeda dengan hubungan Tiongkok-AS. Kemitraan dengan Rusia lebih berfokus pada keamanan, energi, dan keseimbangan geopolitik, sedangkan hubungan dengan AS tetap memiliki arti penting dalam perdagangan, investasi, teknologi, inovasi, serta stabilitas ekonomi global. Kedua hubungan tersebut memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi.

Tidak ada jawaban yang mutlak, karena kepentingannya berbeda. Namun jika dilihat dari sudut pandang geopolitik dan ekonomi saat ini, hubungan Tiongkok–AS secara umum lebih penting bagi Tiongkok dibandingkan hubungan dengan Rusia, meskipun hubungan Tiongkok–Rusia juga sangat strategis.

Selama beberapa dekade, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sangat bergantung pada ekspor, investasi, dan akses ke pasar global. AS tetap merupakan salah satu pasar ekspor terbesar Tiongkok.

Persaingan di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi tinggi membuat hubungan dengan AS menjadi sangat krusial. Bahkan ketika kedua negara bersaing, mereka tetap saling bergantung dalam berbagai rantai pasok.


Stabilitas global

Jika hubungan Tiongkok-AS memburuk drastis, dampaknya akan terasa pada perdagangan dunia, pasar keuangan, nilai tukar, hingga harga komoditas.

Namun, Tiongkok juga tetap membutuhkan Rusia, mengapa? Karena Moskow memberikan keuntungan yang sulit digantikan, antara lain pasokan minyak dan gas melalui jalur dara, dukungan diplomatik di berbagai forum internasional, kerja sama militer dan keamanan.

Intinya, apabila kerja sama dengan AS dapat mendorong peningkatan industri, inovasi teknologi, dan penciptaan lapangan kerja, maka hubungan tersebut layak diperdalam. Sebaliknya, apabila kerja sama dengan Rusia mampu memperkuat ketahanan energi, keamanan nasional, dan posisi geopolitik Tiongkok, maka kemitraan itu juga harus terus diperkuat.

Bagi Tiongkok, prioritas hubungan dengan Washington maupun Moskow akan terus disesuaikan dengan perubahan lingkungan internasional, sementara kepentingan nasional tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan diplomatik.

(Fajar Nugraha)