Kondisi setelah banjir bandang melanda Nepal. Foto: TRT World
Sekitar 403 Wisatawan Hilang dalam Banjir Nepal, 341 Merupakan Warga Asing
Fajar Nugraha • 27 August 2026 08:07
Kathmandu: Bencana banjir bandang yang melanda Nepal serta wilayah Tiongkok, menyebabkan wisatawan hilang.
“Sekitar 403 wisatawan -,341 di antaranya warga asing,- belum diketahui nasibnya beberapa jam setelah bencana terjadi,” menurut Kementerian Pariwisata Nepal, seperti dikutip dari AFP, Kamis 27 Agustus 2026.
“Warga asing yang hilang tersebut mencakup 142 warga India, serta warga dari Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat,” kata dewan pariwisata tersebut.
Pihaknya sedang mengirimkan bantuan darurat, termasuk selimut, perlengkapan pertolongan pertama, tandu, dan kantung jenazah.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, berjanji akan melakukan upaya penanganan secara maksimal.
"Rasa sakit dan kehilangan yang Anda alami tidaklah kecil," ujar PM Shah dalam sebuah pernyataan di media sosial.
"Namun, saya ingin meyakinkan Anda bahwa Anda tidak sendirian dalam masa sulit ini. Negara hadir bersama Anda dengan segala sarana dan sumber dayanya,” tegas PM Shah.
Sarthak Shrestha, seorang analis penginderaan jauh dan geoinformasi di International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) yang berbasis di Kathmandu, mengatakan bahwa penilaian awal menunjukkan "tidak adanya anomali" dari sisi perbatasan wilayah Tiongkok.
"Kami meyakini telah terjadi longsoran batuan dan es di Nepal yang membendung Sungai Lhende dan memicu banjir susulan yang meluap secara beruntun," ujarnya kepada AFP.
Media Tiongkok, CCTV, melaporkan pada Rabu bahwa "bencana longsor lumpur" di sisi Nepal telah mengakibatkan "banyak korban jiwa dan orang hilang" di Pelabuhan Gyirong, Tibet.
Menurut CCTV, Presiden Tiongkok Xi Jinping menyatakan bahwa "tugas yang paling mendesak adalah melakukan segala upaya untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang hilang".
Otoritas lalu lintas di Shigatse, Tibet, menyatakan bahwa jalan-jalan di wilayah tersebut "berisiko terkena longsor lumpur dan tidak aman untuk dilalui".
Hujan monsun yang turun antara bulan Juni hingga September secara rutin memicu banjir dan tanah longsor yang mematikan di seluruh wilayah Asia Selatan.
Para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem di kawasan tersebut.
Qianggong Zhang, kepala bidang risiko iklim dan lingkungan di ICIMOD, memperingatkan adanya potensi banjir susulan.
"Mengingat masih adanya sumbatan di bagian hulu sungai yang melintasi perbatasan Nepal-Tiongkok, pihak berwenang memperingatkan bahwa banjir susulan dapat terjadi," pungkas Zhang.