Apa yang Membuat Greenland Begitu Penting bagi Trump?

Greenland masih diincar oleh Donald Trump untuk dicaplok. Foto: Anadolu

Apa yang Membuat Greenland Begitu Penting bagi Trump?

Muhammad Reyhansyah • 7 January 2026 12:13

Washington: Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke ibu kota Venezuela yang berujung pada tergulingnya Presiden Nicolas Maduro menandai perubahan besar dalam pendekatan Presiden Donald Trump di panggung global. Ancaman yang selama ini kerap dianggap retoris kini menjelma menjadi aksi nyata, memberi bobot baru pada arah kebijakan luar negeri Washington.

Dalam konteks itu, perhatian kembali mengarah pada ambisi lama Trump yang kembali mengemuka, yakni keinginannya agar Amerika Serikat mengambil alih Greenland, wilayah otonom strategis di kawasan Arktik yang berada di bawah kedaulatan Denmark. 

Setelah demonstrasi kekuatan AS di Venezuela, wacana soal Greenland tak lagi dipandang sekadar provokasi politik, melainkan berpotensi menjadi sumber ketegangan serius dengan sekutu-sekutu Eropa.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada Senin, 5 Januari 2026, menegaskan kembali penolakan keras negaranya terhadap gagasan tersebut. Ia menekankan bahwa Greenland secara konsisten menyatakan tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat, seraya memperingatkan bahwa langkah sepihak Washington dapat mengancam keutuhan aliansi NATO.

Lantas, apa yang membuat Trump terus menaruh perhatian pada pulau terpencil dan jarang penduduk ini, serta mengapa Greenland kini menjadi titik sensitif dalam hubungan Amerika Serikat dan Eropa?

Gambaran Umum Greenland

Greenland adalah pulau berukuran sekitar 2,16 juta kilometer persegi yang kaya sumber daya alam. Wilayah ini merupakan bekas koloni Denmark dan saat ini berstatus sebagai daerah otonom di bawah kedaulatan Kopenhagen. Berada di kawasan Arktik, Greenland dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk paling rendah di dunia.

Dengan jumlah penduduk sekitar 56 ribu jiwa, mobilitas antarpermukiman di Greenland sangat bergantung pada jalur laut dan udara, termasuk kapal, helikopter, serta pesawat kecil. Permukiman penduduk umumnya tersebar di sepanjang pesisir barat pulau. 
 
Ibu kota Nuuk menggambarkan lanskap tersebut, dengan deretan rumah berwarna mencolok yang berdiri rapat di antara garis pantai berbatu dan pegunungan di wilayah pedalaman.

Di luar pusat-pusat permukiman, sebagian besar wilayah Greenland masih berupa bentang alam alami. Sekitar 81 persen permukaannya tertutup lapisan es. Mayoritas penduduk, hampir 90 persen, berasal dari etnis Inuit, sementara aktivitas ekonomi lokal selama puluhan tahun bertumpu pada sektor perikanan sebagai sumber penghidupan utama.

Kepentingan Strategis di Kawasan Arktik

Dari sudut pandang geopolitik, Greenland menempati posisi kunci di antara Amerika Serikat dan Eropa. Pulau ini berada di jalur strategis yang dikenal sebagai celah GIUK yaitu rute maritim yang membentang dari Greenland, Islandia, hingga Inggris yang menghubungkan kawasan Arktik dengan Samudra Atlantik.

Nilai strategis tersebut semakin besar karena kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya, mulai dari cadangan minyak dan gas hingga mineral tanah jarang. Komoditas terakhir memiliki arti penting khusus, terutama di tengah dominasi Tiongkok dalam rantai pasok global mineral tanah jarang yang kerap digunakan Beijing sebagai instrumen tekanan geopolitik. 

Bahan-bahan ini menjadi komponen krusial dalam berbagai industri, dari teknologi energi terbarukan seperti kendaraan listrik dan turbin angin hingga sistem persenjataan modern.

Perubahan iklim turut menambah dimensi baru dalam perhitungan strategis kawasan tersebut. Mencairnya lapisan es Arktik berpotensi mempermudah eksploitasi sumber daya alam sekaligus memperpanjang periode pelayaran di rute utara, yang pada akhirnya dapat menggeser peta perdagangan global. 

Hal ini terjadi meski Presiden Donald Trump berulang kali meremehkan krisis iklim dengan menyebutnya sebagai “penipuan terbesar.”

Trump sendiri cenderung mengecilkan peran faktor sumber daya alam dalam ketertarikannya terhadap Greenland. Ia mengatakan kepada wartawan bulan lalu bahwa kepentingan Amerika Serikat semata-mata didorong oleh pertimbangan keamanan nasional, “bukan karena mineral.”

Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan pernyataan lingkaran terdekatnya. Mantan penasihat keamanan nasional Trump, Mike Waltz, pada Januari 2024 menyebut bahwa perhatian Washington terhadap Greenland berkaitan erat dengan akses terhadap “mineral kritis” dan kekayaan sumber daya alam lainnya.

Kaitan dengan Venezuela

Sehari setelah pasukan AS membawa Maduro dari kediamannya, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat membutuhkan Greenland “dari sudut pandang keamanan nasional.” Pernyataan ini diperkuat oleh Wakil Kepala Staf Gedung Putih bidang kebijakan, Stephen Miller, yang semakin menyoroti posisi strategis wilayah Arktik tersebut.

“Kami membutuhkan Greenland, posisinya sangat strategis saat ini. Greenland dipenuhi kapal Rusia dan Tiongkok,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, seraya menambahkan bahwa Denmark dinilai tidak mampu menjamin keamanan wilayah itu.

Pada Selasa, Gedung Putih menyatakan sedang “membahas berbagai opsi” untuk memperoleh Greenland dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

Riwayat Pernyataan Trump

Trump pertama kali menanyakan kemungkinan membeli Greenland pada masa jabatan pertamanya. Meski mendapat penolakan tegas dengan pernyataan “Greenland tidak dijual,” ia kembali mengangkat isu tersebut pada Desember 2024. Dalam unggahan media sosial, Trump menyebut kepemilikan Greenland sebagai “kebutuhan mutlak” demi keamanan nasional dan kebebasan global.

Ia juga menyinggung alasan “keamanan ekonomi.” Wakil Presiden JD Vance kemudian mengunjungi Greenland pada Maret 2025 dan menyatakan bahwa kebijakan AS menginginkan perubahan dalam kepemimpinan Denmark atas wilayah tersebut, meski mengakui masa depan Greenland harus ditentukan oleh warganya sendiri.

Jajak pendapat di Greenland menunjukkan penolakan kuat terhadap gagasan bergabung dengan AS, dengan 85 persen responden menentang pemerintahan Amerika, menurut Reuters.

Implikasi bagi NATO

Penggunaan kekuatan militer oleh Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland yaitu sebuah kemungkinan yang tidak pernah secara tegas dikesampingkan Presiden Donald Trump dinilai berisiko mengguncang bahkan memecah NATO. 

PM Frederiksen menegaskan bahwa serangan militer AS terhadap negara sesama anggota aliansi akan menghentikan seluruh fondasi kerja sama NATO yang selama ini menopang keamanan kolektif.

Pada Selasa, para pemimpin sejumlah negara Eropa utama menyatakan solidaritas mereka terhadap Denmark dan Greenland. Mereka menekankan bahwa stabilitas dan keamanan kawasan Arktik harus dijaga secara kolektif dalam kerangka NATO, bukan melalui tindakan sepihak.

“Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan terkait wilayah tersebut,” demikian bunyi pernyataan bersama yang dikeluarkan para pemimpin Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, Inggris, dan Denmark.


Pandangan Masyarakat Greenland

Retorika Trump menyentuh langsung jantung politik Greenland, yang selama puluhan tahun dibentuk oleh warisan kolonial Denmark dan aspirasi menuju kemerdekaan. Greenland resmi menjadi bagian Denmark pada 1953, memperoleh otonomi internal pada 1979, dan mencapai pemerintahan sendiri pada 2009, meski kebijakan luar negeri, pertahanan, dan moneter masih dikendalikan Kopenhagen.

Dalam beberapa kampanye pemilu terakhir, politisi Greenland menjanjikan langkah menuju kemerdekaan tanpa menetapkan jadwal pasti. Meski tidak semua warga mendukung pemisahan dari Denmark, hanya sedikit yang ingin mengganti kepemimpinan Denmark dengan Amerika Serikat.

Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyebut retorika AS “sepenuhnya tidak dapat diterima.”

“Ketika Presiden Amerika Serikat berbicara tentang ‘membutuhkan Greenland’ dan mengaitkan kami dengan Venezuela serta intervensi militer, itu bukan sekadar keliru, tetapi tidak menghormati,” ujarnya.

Ia menegaskan, “Tidak ada lagi fantasi aneksasi. Kami terbuka untuk dialog dan diskusi, tetapi harus melalui jalur yang semestinya dan menghormati hukum internasional. Greenland adalah rumah kami dan wilayah kami, dan akan tetap demikian.”

Namun, anggota parlemen dari Partai Naleraq yang lebih pro-Amerika, Kuno Fencker, menilai sebagian pernyataan Trump diterima dengan cukup baik.

“Jika ia mengatakan Greenland memiliki hak menentukan nasib sendiri atau bisa bergabung dengan Amerika Serikat, itu merupakan tawaran besar dari presiden AS,” kata Fencker.

“Tetapi jika ada anggapan tentang aneksasi atau pengambilalihan militer, itu jelas tidak diterima,” pungkas Fencker.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)