Semangat Serumpun Warnai Kisah Diplomasi Budaya Indonesia-Malaysia

Wakil Perdana Menteri Malaysia sekaligus Presiden UMNO Malaysia Dato Seri Ahmad Zahid Hamidi saat mengunjungi NasDem Tower. Foto: Metro TV/Damar.

Semangat Serumpun Warnai Kisah Diplomasi Budaya Indonesia-Malaysia

Muhammad Adyatma Damardjati • 19 September 2026 22:27

Jakarta: Semangat persaudaraan serumpun menjadi pesan utama dalam jamuan persahabatan Partai NasDem dan UMNO Malaysia di NasDem Tower, Jakarta. Kedekatan budaya dinilai menjadi kunci yang tidak boleh terputus di tengah dinamika hubungan kedua negara.

Wakil Perdana Menteri Malaysia dan Presiden UMNO Malaysia Dato Seri Ahmad Zahid Hamidi membagikan pengalaman saat menjabat Menteri Pertahanan Malaysia. Ia bercerita tentang pengiriman bantuan kemanusiaan ke Yogyakarta pasca-letusan Gunung Merapi dan wafatnya Mbah Maridjan.

"Sewaktu Gunung Merapi meletus, yang pertama kali saya ketemu Mbah Maridjan. Dan kali kedua meletus, Mbah Maridjan meninggal sewaktu salat asar. Saya menghantar bantuan sebagai tanda kasih, tanda persahabatan Malaysia ke Indonesia," ujar Zahid di NasDem Tower, Sabtu, 19 September 2026.

Saat itu, narasi yang berkembang di media Indonesia menyebut Malaysia datang untuk membayar utang. Sebab, Malaysia dituding sering mengklaim budaya Indonesia seperti batik dan tempe.

"Para wartawan ketemu saya dalam press conference, mengatakan: 'Bapak datang ke Jogja, datang ke bumi Indonesia ini mau membayar hutang'. Membayar hutang kerana Malaysia itu meminjam semuanya dari Indonesia. Meminjam batiknya, meminjam tempenya, meminjam budayanya," ungkap Zahid.

Zahid membalas dengan menegaskan bahwa Malaysia dan Indonesia adalah saudara kandung dalam rumpun Kepulauan Melayu. Ia menyebut sebelum Belanda masuk, tidak ada Indonesia maupun Tanah Melayu, yang ada hanyalah Kepulauan Melayu.

"Saya bilang, Malaysia dan Indonesia itu seperti saudara kandung. Kita dalam rantau Kepulauan Melayu. Sebelum Belanda masuk, tidak ada Indonesia, tidak ada Tanah Melayu. Yang ada ialah Kepulauan Melayu," sebut Zahid.

Zahid kemudian menjawab para wartawan dengan bahasa Jawa. Kalimat itu seketika meredam tensi dan mengubah arah pemberitaan menjadi positif.

"Dulur e teko soko Malaysia arep ngerewangi kok malah diarani. Saudara yang datang daripada Malaysia untuk membantu, kok malah dimarahi," ujar Zahid.

Dari kisah itu, Zahid menekankan pentingnya hubungan people to people yang tidak boleh terputus. Menurutnya, hubungan antarmasyarakat adalah kunci di samping hubungan pemerintah dan bisnis.

"Siapa pun yang menjadi Presiden Indonesia dan siapa pun yang menjadi Perdana Menteri Malaysia, rakyat Malaysia dan rakyat Indonesia pastikan bahwa P to P, people to people, we must be together. Apalagi G to G, government to government, we have to be intact," kata Zahid.

(Anggi Tondi)