BPS: Kunjungan Wisman Hingga April 2026 Tembus 4,68 Juta

Ilustrasi - Menikmati olah raga paralayang dari Puncak Dunu, Desa Dunu Kecamatan Monano, Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. ANTARA/HO-Yasin Ali.

BPS: Kunjungan Wisman Hingga April 2026 Tembus 4,68 Juta

Fachri Audhia Hafiez • 2 June 2026 19:36

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan performa gemilang dari sektor pariwisata nasional dengan total kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia menembus angka 4,68 juta kunjungan sepanjang Januari hingga April 2026. Realisasi ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,24 persen dibandingkan periode yang same tahun lalu, sekaligus memecahkan rekor sebagai capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir.

“Capaian kunjungan wisman Januari hingga April 2026 ini merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2020,” ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip dari rilis Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Selasa, 2 Juni 2026.
 


Pudji memaparkan bahwa tren positif ini menjadi indikator kuat bahwa industri pariwisata tanah air terus mengalami pemulihan yang solid dan ekspansif. Berdasarkan jalur mobilisasi, mayoritas pelancong asing memilih pintu masuk angkutan udara untuk berkunjung ke Indonesia, dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, sebagai gerbang utama yang sukses menyerap hingga 2 juta kunjungan wisman.

Melonjaknya arus kedatangan wisman ini linear dengan peningkatan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Indonesia. BPS mencatat okupansi kamar hotel secara nasional pada April 2026 menyentuh angka 37,08 persen, atau mengalami kenaikan sebesar 3,80 persen poin secara bulanan (month-to-month) dan tumbuh 0,33 persen poin secara tahunan (year-on-year).

Jika dibedakan berdasarkan klasifikasi akomodasi, TPK untuk hotel berbintang pada April 2026 sukses bertengger di angka 48,83 persen. Secara spasial, Bali menjadi provinsi dengan okupansi hotel bintang tertinggi mencapai 57,94 persen, dibayangi ketat oleh DKI Jakarta sebesar 54,80 persen dan Kalimantan Barat dengan 53,76 persen. Sebaliknya, wilayah Aceh, Papua Tengah, dan Bangka Belitung menjadi yang terendah masing-masing sebesar 24,35 persen, 29,58 persen, dan 30,39 persen.

Secara kumulatif selama empat bulan pertama di tahun 2026, rata-rata okupansi hotel bintang berada di angka 46,01 persen, naik 2,07 persen poin dari tahun 2025. Papua Barat menjadi provinsi dengan lonjakan TPK hotel bintang paling melesat yakni sebesar 13,38 persen poin, sedangkan kemerosotan paling tajam dialami oleh Papua Pegunungan yang minus hingga 5,76 persen poin.


Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers di Jakarta.

Sementara itu, geliat bisnis juga dirasakan pada sektor hotel nonbintang dan akomodasi sejenisnya yang meraih angka TPK sebesar 24,96 persen pada April 2026. Untuk kategori ini, DKI Jakarta memimpin pasar dengan okupansi tertinggi sebesar 38,09 persen, disusul Kepulauan Riau sebesar 35,11 persen, dan Bali sebesar 34,81 persen. Adapun rapor terendah dipegang oleh Papua Pegunungan yang hanya mampu mencatatkan angka TPK sebesar 9,62 persen.

Secara akumulatif dari Januari hingga April 2026, keterisian hotel nonbintang rata-rata berada pada angka 23,75 persen atau merangkak naik 0,51 persen poin. Tren pertumbuhan tertinggi didominasi oleh Papua Barat sebesar 7,72 persen poin, disusul Gorontalo sebesar 6,38 persen poin, dan Sulawesi Utara sebesar 4,88 persen poin. Di sisi lain, penurunan terdalam justru harus dialami oleh Bali yang menyusut 4,72 persen poin, diikuti DKI Jakarta sebesar 3,47 persen poin, serta Banten sebesar 2,47 persen poin.

(Fachri Audhia Hafiez)