Parade 6 Planet akan Hiasi Langit pada 28 Februari, Catat Waktunya

Ilustrasi:skyandtelescope.org

Parade 6 Planet akan Hiasi Langit pada 28 Februari, Catat Waktunya

Riza Aslam Khaeron • 24 February 2026 18:15

Jakarta: Enam planet akan tampak berjejer di langit malam sepanjang akhir Februari 2026 dalam fenomena yang dikenal sebagai parade planet atau planetary alignment. Melansir The Guardian, peristiwa langka ini akan mencapai puncaknya pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Dalam laporan yang ditulis oleh Maya Yang dan diterbitkan pada Selasa, 10 Februari 2026, disebutkan bahwa Merkurius, Venus, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus akan terlihat tersusun rapat di cakrawala.

Fenomena ini terjadi ketika setidaknya empat atau lima planet tampak berada di area yang sama di langit jika dilihat dari perspektif Bumi.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menjelaskan bahwa peristiwa ini dimungkinkan karena planet-planet mengorbit Matahari pada bidang yang relatif datar, yang disebut sebagai bidang ekliptika.

Secara visual, planet-planet tersebut tampak sejajar dalam satu garis lurus, meskipun pada kenyataannya jarak fisik mereka tetap terpisah jutaan hingga miliaran kilometer di ruang angkasa.

Mengapa Fenomena Ini Terjadi?

Menurut NASA, parade planet terjadi karena setiap planet bergerak dengan kecepatan dan jarak orbit yang berbeda-beda. Pada momen tertentu, beberapa di antaranya tampak berada dalam satu jalur searah dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Namun, NASA menegaskan bahwa kesejajaran tersebut hanyalah efek visual perspektif belaka.

"Hal ini krusial karena atmosfer Bumi di dekat permukaan tanah akan meredupkan objek langit saat mereka terbit atau terbenam," jelas NASA.

"Bahkan planet yang terang sekalipun akan sulit atau mustahil untuk bercahaya jika posisinya terlalu rendah, karena cahayanya cenderung terhambur dan terserap oleh atmosfer sebelum mencapai mata Anda," tambah lembaga tersebut.
 

Planet yang Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang


Ilustrasi: Vito Technology, Inc.

Masih mengutip laporan yang sama, empat planet utama yakni Merkurius, Venus, Jupiter, dan Saturnus dapat diamati langsung tanpa bantuan alat optik.

Sementara itu, Uranus dan Neptunus memerlukan bantuan teropong atau teleskop karena posisinya berada di wilayah luar tata surya yang jauh lebih redup. Merkurius juga diprediksi akan menjadi planet yang paling menantang untuk ditemukan karena posisinya yang sangat rendah di dekat garis horizon.
 
Baca Juga:
NASA Ajak Masyarakat Kirim Nama ke Bulan Lewat Misi Artemis II, Simak Cara Daftarnya!
 

Waktu Terbaik Mengamati

Waktu terbaik untuk menyaksikan parade planet ini adalah sekitar 30 menit setelah matahari terbenam waktu setempat.

Aplikasi astronomi Star Walk merekomendasikan para pengamat untuk menghadap ke arah langit barat. Pastikan pandangan Anda tidak terhalang oleh gedung atau pohon, serta berada dalam kondisi cuaca yang cerah.

NASA menyebutkan bahwa agar planet dapat terlihat jelas tanpa alat bantu, posisinya sebaiknya berada beberapa derajat di atas horizon, dengan ketinggian ideal sekitar 10 derajat atau lebih.

Untuk wilayah Jakarta, berdasarkan data aplikasi Star Walk 2, fenomena ini bisa disaksikan mulai pukul 18.13 WIB, bertepatan dengan waktu berbuka puasa Ramadan.
 

Dapat Dilihat di Seluruh Dunia

Fenomena ini dapat disaksikan dari berbagai belahan dunia, namun tanggal puncaknya bisa sedikit berbeda tergantung lokasi geografis:
  • 25 Februari 2026: São Paulo.
  • 28 Februari 2026: Athena, New York, Mexico City, dan Tokyo.
  • 1 Maret 2026: Beijing, Berlin, London, dan Mumbai.
  • 2 Maret 2026: Reykjavik.
Sebagai perbandingan, pada 27 Februari 2025, tujuh planet pernah terlihat sejajar dalam fenomena serupa yang diprediksi tidak akan terulang kembali hingga tahun 2040.

"Munculnya kelompok tiga, empat, atau bahkan lima planet secara bersamaan bukanlah hal yang aneh dan rutin terjadi setiap tahun. Namun, semakin banyak planet yang terlibat, semakin sulit bagi mereka untuk berada di posisi yang sejajar secara bersamaan. Hal inilah yang membuat parade tujuh planet menjadi peristiwa yang sangat langka," ujar Greg Brown, astronom di Royal Observatory Greenwich.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)