9 Tips Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak di Lingkungan Keluarga

Ilustrasi: Pexels

9 Tips Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak di Lingkungan Keluarga

Riza Aslam Khaeron • 11 July 2026 17:53

Jakarta: Kurang dari dua minggu lagi, Indonesia akan memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2026. Momentum tahunan ini bisa menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental anak.
 
Kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan yang cukup besar. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, satu dari tiga remaja berusia 10–17 tahun (atau sekitar 15,5 juta jiwa) di ibu pertiwi mengalami masalah kesehatan mental.

Bahkan, sekitar 2,45 juta di antaranya mengalami gangguan mental yang sudah memenuhi kriteria diagnosis medis.

Di tengah situasi ini, peran aktif keluarga, khususnya orang tua, menjadi garda terdepan yang sangat penting. Menyambut HAN, berikut adalah sembilan langkah nyata yang bisa diterapkan di rumah untuk menjaga dan merawat kesehatan mental buah hati Anda:
 

1. Membangun Komunikasi yang Terbuka

Luangkan waktu khusus untuk mendengarkan cerita anak tanpa buru-buru menghakimi, menyalahkan, atau memotong pembicaraan mereka. Biasakan untuk mendiskusikan perasaan sejak dini, bukan hanya saat anak sedang menghadapi masalah. Gunakan nada bicara yang tenang, pilihan bahasa yang sesuai dengan usianya, serta tunjukkan ekspresi hangat agar anak merasa aman untuk jujur.
 

2. Mengakui dan Menerima Emosi Anak


Ilustrasi: Julia M Cameron/Pexels

Hindari meremehkan perasaan anak dengan kalimat seperti "jangan cengeng" atau "masalah sepele begitu saja dipikirkan".

Sebaliknya, bantu mereka mengenali apa yang sedang dirasakan, seperti sedih, marah, kecewa, takut, atau cemas. Jika anak masih kesulitan mengekspresikan diri secara verbal, Anda bisa menggunakan bantuan gambar ekspresi wajah atau pilihan kata sederhana.
 

3. Menciptakan Rumah yang Aman dan Penuh Kasih Sayang

Rumah harus menjadi pelabuhan teraman bagi anak. Ciptakan lingkungan keluarga yang memberikan rasa aman, nyaman, penuh perhatian, dan perlindungan. Sebisa mungkin, hindari kekerasan fisik, ancaman verbal, penghinaan, pertengkaran di depan anak, maupun bentuk hukuman yang mempermalukan mereka. Hubungan keluarga yang hangat adalah nutrisi terbaik bagi psikologis anak.
 

4. Memberikan Perhatian dan Waktu Berkualitas

Di tengah kesibukan, sempatkan waktu untuk bermain, mengobrol, membaca buku, makan bersama, atau melakukan aktivitas menyenangkan lainnya tanpa gangguan gawai (gadget). Melalui waktu berkualitas dan bermain, anak mendapatkan ruang bebas untuk mengekspresikan emosi, melatih keterampilan sosial, sekaligus mempererat ikatan batin dengan orang tua.
 

5. Memberikan Apresiasi secara Tepat

Berikan pujian yang tulus atas usaha, keberanian, kedisiplinan, dan proses belajar yang dilalui anak, bukan hanya berfokus pada hasil akhirnya. Apresiasi seperti ini sangat efektif untuk membangun rasa percaya diri dan harga diri (self-esteem) mereka. Meski begitu, tetaplah berikan target yang realistis dan sesuai dengan kapasitas serta tahap perkembangan usia anak.
 

6. Tidak Membanding-bandingkan Anak

Membandingkan anak dengan saudara kandung, teman, atau anak orang lain hanya akan membuatnya merasa tidak berharga dan tidak cukup baik. Ingatlah bahwa setiap anak unik dan memiliki garis waktu perkembangannya masing-masing. Fokuslah pada kelebihan yang mereka miliki sembari membimbing mereka memperbaiki kekurangan secara perlahan dan suportif.
 

7. Menjadi Teladan dalam Mengelola Emosi

Anak adalah peniru yang ulung; mereka belajar dari apa yang mereka lihat di rumah. Tunjukkan pada anak cara menyampaikan amarah tanpa kekerasan, cara meminta maaf dengan tulus saat melakukan kesalahan, serta cara mengelola stres dengan sehat. Anda juga bisa mengekspresikan perasaan Anda secara sehat di depan mereka tanpa harus membebani anak dengan masalah orang dewasa.
 
Baca Juga:
Darurat Kesehatan Mental Anak, Rerie Dorong Langkah Nyata dan Kolaborasi
 

8. Menjaga Rutinitas Hidup yang Sehat

Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan erat. Pastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup, asupan makanan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang aktif, waktu bermain yang cukup, serta jadwal belajar yang teratur. Rutinitas harian yang konsisten dan terprediksi memberikan rasa aman dan membantu anak mengelola kecemasan mereka.
 

9. Mengatur Penggunaan Gawai dan Media Sosial

Buatlah kesepakatan bersama mengenai aturan penggunaan perangkat digital di rumah. Tentukan area atau waktu bebas layar (screen-free time), misalnya saat makan bersama dan satu jam menjelang tidur.

Selain itu, dampingi anak dan ajak mereka berdiskusi tentang pengalaman mereka di internet, bahaya perundungan siber (cyberbullying), serta cara menyikapi konten yang mengganggu. Agar aturan ini efektif, orang tua juga harus memberikan contoh nyata dengan membatasi penggunaan gawai sendiri.

(Whisnu M)