Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali. (Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Bank Indonesia Dorong Penguatan Ketahanan Pangan Nasional Menuju 2045
Duta Erlangga • 11 June 2026 19:02
Jakarta: Ketahanan pangan menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang strategis Indonesia dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Di tengah ancaman perubahan iklim, gejolak ekonomi global, dan gangguan rantai pasok yang berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan, Indonesia dituntut mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan secara berkelanjutan.
Guna mempertajam strategi memperkuat ketahanan pangan nasional dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045, Metro TV bersama Bank Indonesia menggelar forum diskusi Economic Conference of The National Sustainable Food Programme dengan tema “Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas” di Grand Ballroom Kempinski Hotel, Jakarta, pada Rabu, 10 Juni 2026.
Forum diskusi ini menghadirkan para pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, regulator, akademisi, dan dunia usaha. Mereka adalah Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali; Kepala Departemen Regional Bank Indonesia Rudy Brando Hutabarat; Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria; Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan, Badan Pangan Nasional Yudhi Harsatriadi Sandyatma; serta Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan KADIN Indonesia Mulyadi Jayabaya.
Direktur Utama Metro TV Arief Suditomo dalam sambutannya mengatakan ketahanan pangan memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
“Menuju Indonesia Emas 2045, ketahanan pangan tidak hanya menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, tetapi juga fondasi bagi stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan. Sejalan dengan visi pembangunan nasional melalui Asta Cita, ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama dalam mewujudkan swasembada dan kemandirian pangan sebagai fondasi kedaulatan bangsa,” kata Arief Suditomo.
Berbagai tantangan global yang terus berkembang membuat penguatan sektor pangan menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.

Direktur Utama Metro TV Arief Suditomo. (Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
“Di tengah berbagai tantangan global yang terus mengancam, event ini mengingatkan kita bila upaya memperkuat sektor pangan tidak hanya menjadi kebutuhan hari ini, tetapi juga merupakan investasi strategis masa depan bangsa kita. Forum ini juga penting sebagai ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan solusi untuk dapat diterjemahkan menjadi langkah-langkah yang nyata,” ujar Arief Suditomo.
Ketahanan pangan merupakan fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dan berdaya saing pada 2045. Hal itu dikatakan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali.
“Ketika kita berbicara mengenai Indonesia Emas tahun 2045, kita berbicara mengenai ekonomi yang maju dan berdaya saing. Namun, seluruh agenda besar tersebut harus berdiri di atas fondasi yang kuat, yaitu kemampuan bangsa dalam menyediakan pangan yang cukup, terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat,” kata Ricky.
Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas perekonomian melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk pengendalian inflasi dan penguatan koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga pasokan dan distribusi pangan.
“Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas perekonomian melalui bauran kebijakan, termasuk pengendalian inflasi serta koordinasi dengan pemerintah untuk memastikan bahwa pasokan dan distribusi pangan tetap terjaga. Upaya ini tentunya memerlukan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat,” ujar Ricky.

Metro TV bersama Bank Indonesia menggelar forum diskusi Economic Conference of The National Sustainable Food Programme dengan tema “Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas” di Grand Ballroom Kempinski Hotel, Jakarta, pada Rabu, 10 Juni 2026. (Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menilai riset dan inovasi harus memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional, termasuk dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan.
Menurut dia, BRIN saat ini mengarahkan agenda riset agar lebih berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
“Jadi, BRIN memang kita saat ini mulai fokus pada impact. Bagaimana kontribusi kita kepada cita-cita kita untuk bisa stabil pada tumbuh 8%. Itu sebuah mimpi yang harus juga kita wujudkan,” kata Arif Satria.
Ia menjelaskan terdapat tiga fokus utama yang tengah dikembangkan BRIN. Pertama, mendorong riset dan inovasi untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kedua, memperkuat daya saing industri dan badan usaha milik negara (BUMN). Ketiga, mempercepat penguasaan teknologi melalui kolaborasi dan pengembangan bersama.
"Nah, sehingga ada tiga track yang akan kita lakukan. Pertama adalah bagaimana riset inovasi mendukung UMKM. Kedua, bagaimana riset inovasi mendukung industri dan dana-dana BUMN. Dan yang terakhir adalah bagaimana co-development, reverse engineering harus kita lakukan. Banyak proyek-proyek strategis nasional yang berasal teknologinya dari luar,” ujar Arif.
Sebagai penutup, Arif menegaskan penguasaan teknologi menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terus bergantung kepada negara lain dalam menjalankan berbagai proyek strategis nasional.
Economic Conference of The National Sustainable Food Programme menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama Indonesia Emas 2045. Melalui penguatan pasokan dan distribusi pangan, pengendalian inflasi, riset dan inovasi yang berdampak, serta kolaborasi lintas sektor, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem pangan yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.