Mahasiswa ITB Ciptakan Helm Pintar Pendeteksi Kantuk Pengendara Motor

Model SADAR Helmet yang dirangcang oleh tim iConic dengan sensor PPG, akselerometer & giroskop, tombol respons, dan LED peringatan. ANTARA/HO-Tim iConic ITB

Mahasiswa ITB Ciptakan Helm Pintar Pendeteksi Kantuk Pengendara Motor

Silvana Febiari • 13 June 2026 21:29

Bandung: Tiga mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) tergabung Tim iConic menciptakan sebuah inovasi bernama "SADAR Helmet". Inovasi ini merupakan helm cerdas berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mendeteksi gejala microsleep atau rasa kantuk pada pengendara sepeda motor.

Inovasi tersebut menyabet juara dua nasional ajang Smart Safety Competition (SASECOM) 2026 diselenggarakan OSH Forum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip).

"Kami memilih topik ini karena microsleep merupakan masalah nyata dan sangat relevan di Indonesia, terutama bagi pengguna sepeda motor yang mendominasi angka kecelakaan nasional," kata seorang perwakilan Tim iConic ITB Mahesya Friemay Romadhoni, dilansir dari Antara, Sabtu, 13 Juni 2026. 
 


Ia menilai perkembangan teknologi IoT dan "smart mobility" membuka peluang besar menghadirkan sistem keselamatan lebih preventif, murah, dan mudah diimplementasikan.

"SADAR Helmet" dirancang secara retrofit, artinya perangkat pemantau ini dapat dipasang langsung pada helm standar SNI yang sudah beredar di pasaran, tanpa harus mengubah struktur aslinya. Keunggulan ini membuat biaya implementasi jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan sistem pendeteksi kantuk berbasis kamera atau EEG.

Secara teknis, helm ini mengintegrasikan sensor Photoplethysmography (PPG) untuk membaca detak jantung dan Heart Rate Variability (HRV), serta sensor akselerometer dan giroskop untuk memantau gerakan kepala pengendara secara seketika.

Melalui metode machine learning dan sensor fusion, sistem akan mengklasifikasikan kondisi kantuk pengendara. Jika pramicrosleep terdeteksi, helm akan memberikan peringatan preventif berupa getaran, suara, dan notifikasi digital sebelum kecelakaan terjadi.


Model SADAR Helmet yang dirangcang oleh tim iConic dengan sensor PPG, akselerometer & giroskop, tombol respons, dan LED peringatan. ANTARA/HO-Tim iConic ITB


Seorang anggota tim itu, Rizky Miftah Alfiah, mengungkapkan proses perancangan prototipe ini memanfaatkan peranti lunak SolidWorks dan AutoCAD. Pengembangan tersebut juga divalidasi dengan keamanan ketat berdasarkan jurnal ilmiah di tengah padatnya jadwal kuliah.

"Prosesnya memakan banyak waktu karena kami benar-benar melakukan brainstorming berhari-hari untuk mendapatkan ide SADAR Helmet. Kebetulan kami juga sedang mengambil mata kuliah Pengembangan Produk dan Bisnis, sementara K3 menjadi salah satu objek kajian di Teknik Industri," ujarnya.

Seorang anggota tim lainnya, Muhammad Yasser Saputro, berharap inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut melalui integrasi aplikasi gawai, pelacakan GPS, pemantauan komputasi awan (cloud), hingga analisis berbasis kecerdasan buatan (AI). Tujuannya untuk meningkatkan akurasi deteksi.

Tim iConic kini sedang membidik peluang kolaborasi dengan industri helm nasional, sektor otomotif, maupun pemerintah. Hal ini dilakukan agar teknologi penekan angka kecelakaan lalu lintas ini dapat diproduksi secara massal.

"Kami belajar bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya berasal dari ide yang bagus, tetapi juga dari proses riset yang kuat, kerja sama tim, komunikasi yang baik, dan kemampuan memahami permasalahan nyata di masyarakat," ungkapnya.

(Silvana Febiari)