Petugas berusaha memadamkan kathutla di Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar, Riau. MI/Rudi Kurniawansyah
BMKG: 113 Titik Panas Terdeteksi di Riau
Lukman Diah Sari • 4 February 2026 09:52
Pekanbaru: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 113 titik panas di Provinsi Riau. Jumlah terbanyak di Kabupaten Pelalawan yang mencapai 60 titik.
Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru Sanya G menyampaikan bahwa selain Pelalawan, sebaran titik panas ada di Kabupaten Bengkalis (26), Inderagiri Hilir (9), Kota Dumai (9), Rokan Hilir (9), dan Kepulauan Meranti (1). Data tersebut berdasarkan pembaruan data hingga pukul 07.00 WIB, Rabu.
"Kondisi ini menjadi perhatian seiring prakiraan cuaca di Riau yang masih didominasi cerah hingga berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang yang bersifat lokal," katanya di Pekanbaru, Rabu, 4 Februari 2026, melansir Antara.
.jpg)
Petugas berusaha memadamkan kathutla di Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar, Riau. MI/Rudi Kurniawansyah
Sementara di Pulau Sumatra terdeteksi 170 titik panas dengan Provinsi Riau yang paling banyak. Kemudian disusul Kepulauan Riau (20), Aceh (20), Kepulauan Bangka Belitung (9), Jambi (3),serta Sumatra Selatan dan Sumatra Barat masing-masing satu.
Setelah melewati masa banjir di sejumlah wilayah, Provinsi Riau kini mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Memasuki awal Februari 2026, beberapa titik api terpantau muncul di berbagai daerah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau mencatat sedikitnya enam kabupaten dan kota telah terdampak karhutla. Sebagian kebakaran berhasil ditangani dengan cepat, meskipun di beberapa lokasi petugas gabungan masih terus melakukan upaya pemadaman agar api tidak meluas.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau Jim Ghafur mengatakan penetapan status siaga darurat di tingkat kabupaten dan kota dinilai sangat strategis. Pasalnya, untuk menetapkan status siaga darurat karhutla di tingkat provinsi, minimal harus ada tiga daerah yang terlebih dahulu menetapkan status serupa.
“Oleh karena itu, kami terus mendorong daerah-daerah yang rawan atau sudah mengalami karhutla agar mempertimbangkan penetapan status siaga, terutama jika potensi kebakaran semakin meningkat,” ujarnya