Ilustrasi Netflix. Foto: Pexels/freestocks
Penonton Tinggalkan Serial Netflix: Ancaman Video Pendek dan Kesalahan Sendiri
Muhamad Marup • 9 July 2026 21:16
Jakarta: Raksasa platform streaming, Netflix, tengah mendapat tantangan serius terkait penurunan penonton serial-serial yang mereka produksi. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, mulai dari faktor eksternal hingga kesalahan Netflix sendiri.
Penurunan penonton ini sekaligus menambah tren negatif Netflix. Mengutip collider.com, Netflix terkenal sering membatalkan penayangan series tanpa pemberitahuan yang kerap mengecewakan pelanggan.
Penurunan di Musim Kedua
Sebuah laporan baru dari Bloomberg menunjukkan perbedaan mencolok dalam jumlah penonton antara musim pertama dan musim kedua dari serial original Netflix.Musim kedua Live Action One Piece kehilangan lebih dari 30 persen penontonnya, sementara musim kedua Beef turun drastis hingga 70 persen.
Serial teranyar Netflix, Avatar: The Last Airbender juga terdampak setelah mengalami penurunan jumlah penonton sebesar 60% hanya seminggu setelah penayangan perdananya.
Salah satu hal positif adalah bahwa kualitas tayangan bukan masalah. Sebagian besar serial yang mengalami penurunan masih mendapat rating tinggi dari season pertama.
Lantas, apa yang menyebabkan penurunan ini?
Jeda Antarmusim Jadi Penyebab
Masih melansir collider.com, penulis dan sutradara Matthew A. Cherry menyampaikan pandangan sederhana setelah perilisan laporan Bloomberg. Menurutnya, jeda bertahun-tahun antar musim mengikis minat orang terhadap acara Netflix.Hal tersebut terbukti karena serial original Netflix tampaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk dirilis. Baik Beef maupun One Piece tayang perdana pada tahun 2023, yang berarti butuh tiga tahun untuk musim baru dirilis.
Ilustrasi Netflix. Foto: Getty Images.
Efek samping lain dari jeda musiman adalah opini penonton terhadap serial tertentu mulai bergeser, dan terkadang tidak menjadi lebih baik. Stranger Things adalah contoh konkret dari hal ini, karena jarak antar musim semakin lebar, yang mengakibatkan evaluasi ulang terhadap serial yang dulunya sangat dicintai.Model Binge Netflix Sudah Usang
Netflix memiliki masalah lain yang harus dihadapi selain jeda produksi yang panjang: model binge-nya sudah usang. Ketika pertama kali diluncurkan, ide menonton satu musim serial televisi dalam sehari adalah daya tarik yang besar.Sekarang, kebanyakan orang lebih menyukai musim yang lebih panjang daripada 8 episode yang biasanya dialokasikan Netflix untuk serial aslinya. Layanan streaming lain seperti Prime Video dan Disney+ telah menjadikan rilis mingguan sebagai kebiasaan dan akhirnya menggeser Netflix dari sorotan.
Editor hiburan Cosmopolitan, Tamara Fuentes, menyatakan hal serupa. Menurutnya, ketika layanan streaming lain telah menemukan identitas yang jelas, Netflix tetap sulit untuk didefinisikan.
"Netflix sering menemukan identitasnya melalui acara hit pada saat itu. Sepertinya mereka mencoba mencari formula itu lagi, tetapi mereka tidak sering berpegang pada apa yang mereka temukan sebagai kesuksesan,"
Ancaman Video Pendek
Melansir techcrunch.com, video pendek menjadi hiburan baru. Dari segi waktu menonton, Netflix sudah kalah dari Youtube dan mulai didekati Tiktok.Netflix bahkan telah mengakui ancaman eksistensial ini melalui desain ulang produk pada bulan April yang menambahkan feed mirip TikTok berdasarkan konten Netflix. Kesalahan Netflix terletak pada feed-nya yang masih dipasarkan sebagai cara untuk membantu menemukan sesuatu untuk ditonton, bukan sebagai hal yang Anda tonton. Dapat dimengerti mengapa Netflix mengambil jalur ini, mengingat koleksi kontennya, tetapi itu belum tentu yang diinginkan pengguna akhir.
Saat ini, aplikasi drama mikro seperti ReelShort dan DramaBox juga mulai ramai karena menawarkan cerita yang dapat dinikmati dalam hitungan menit. TikTok pun mengakui persaingan tersebut, dengan meluncurkan aplikasi drama mikro sendiri untuk menguji minat pasar terhadap jenis konten ini.