Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar/MI
Podium Media Indonesia: Dari Langit ke Bumi
Abdul Kohar • 26 May 2026 06:29
DI tengah gema talbiah yang bersahutan, khususnya ketika puncak haji, yakni wukuf di Arafah, kita sering diingatkan agar tak lupa bahwa ibadah bukan hanya urusan langit. Ibadah juga jalan pulang ke bumi, ke kehidupan bersama yang lebih adil dan bermakna.
Sila pertama Pancasila mengingatkan bahwa ketuhanan bukan sekadar keyakinan personal, melainkan juga fondasi bagi kemaslahatan bersama. Di sanalah agama menemukan relevansinya. Agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menata hubungan manusia dengan sesamanya.
Ibadah haji memberikan pelajaran itu secara utuh. Ali Shariati, cendekiawan Iran, menyebutnya sebagai drama kolosal kehidupan manusia. Ia serupa sebuah perjalanan yang memadukan dua gerak sekaligus, yakni kembali kepada Tuhan dan kembali ke kehidupan.
Gerak pertama ialah pulang ke 'rumah Ilahi'. Ia dimulai dari ihram ketika manusia menanggalkan segala atribut duniawi. Tak ada lagi status, jabatan, atau perbedaan. Semua berdiri setara, hanya dibedakan ketakwaan.
Baca Juga :
Jemaah Haji Indonesia Mulai Tiba di Tenda Arafah
Dalam tawaf, 'aku' dilebur menjadi 'kita'. Manusia berputar dalam orbit yang sama, mengelilingi satu pusat. Pesannya sederhana, tetapi dalam, yaitu mendekati Tuhan tidak bisa tanpa mendekati manusia. Kesalehan sosial menjadi jalan menuju kesucian spiritual.
Sai antara Shafa dan Marwa menghidupkan kembali kisah keteguhan. Ia bukan sekadar lari kecil, melainkan juga simbol perjuangan melawan keputusasaan. Di sana ada pesan tentang harapan, kerja keras, dan keberanian menembus batas.
Lalu datang gerak kedua: kembali ke kehidupan. Dimulai dari wukuf di Arafah, tempat manusia berhenti, merenung, dan membakar ego dalam terang pengetahuan. Di situlah kesadaran dilahirkan.
Perjalanan berlanjut ke Mina, tempat manusia melontar jumrah. Sebuah simbol perlawanan terhadap segala bentuk kezaliman, bukan hanya setan dalam pengertian teologis, melainkan juga 'berhala-berhala' modern berupa keserakahan, kekuasaan tanpa kendali, dan ketidakadilan.
Puncaknya ialah kurban. Sebuah ujian tentang sejauh mana manusia bersedia melepaskan yang paling dicintai demi kebaikan yang lebih besar. Seberat kisah Nabi Ibrahim, pengorbanan selalu menuntut keikhlasan.
Di sinilah pesan Idul Adha menjadi terang, bahwa kehidupan bersama hanya bisa dibangun di atas kesediaan berkorban. Bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk keadilan dan kesejahteraan bersama.
.jpeg)
Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar/MI
Jika nilai itu dihayati, demokrasi bukan lagi sekadar prosedur, melainkan juga laku pengabdian. Kekuasaan tidak lagi menjadi tujuan, tetapi alat untuk melayani. Politik bukan lagi arena perebutan, melainkan ruang pengorbanan.
Indonesia sesungguhnya telah memiliki modal besar. Bahasa persatuan, jejaring sosial, dan tradisi gotong royong menjadi fondasi yang kukuh. Namun, yang masih kurang ialah keberanian untuk memperluas ruang perjumpaan yang menghubungkan perbedaan menjadi kekuatan.
Di bidang ekonomi, pesan kurban juga relevan. Kesejahteraan tidak bisa dibangun dari eksploitasi semata. Ia membutuhkan nilai tambah, inovasi, dan keberpihakan agar kemakmuran tidak berhenti di segelintir tangan.
Pada akhirnya, haji dan Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan. Ia cermin. Bahwa manusia yang pulang dari 'rumah Ilahi' seharusnya kembali ke 'rumah kehidupan' dengan membawa kesadaran, keadilan, dan keberanian untuk berkorban.
Hanya dengan itulah, kebahagiaan hidup bersama tidak berhenti sebagai cita-cita, tetapi menjelma menjadi kenyataan.