Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Anadolu Agency)
Dirjen WHO Tiba di RD Kongo, Tegaskan Wabah Ebola Bisa Dihentikan
Dimas Chairullah • 29 May 2026 14:59
Kinshasa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) masih dapat dihentikan meski jumlah korban terus bertambah dan situasi keamanan di wilayah terdampak semakin memburuk.
Mengutip France 24, Jumat, 29 Mei 2026, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan pernyataan tersebut saat tiba di ibu kota Kinshasa untuk memantau langsung penanganan wabah.
“Hal itu bisa dihentikan. Bersama-sama, kita akan mengatasi wabah ini. Saya berjanji akan melakukan segala yang saya mampu untuk membantu Anda,” kata Tedros.
Tedros dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Provinsi Ituri di timur laut DRC yang menjadi pusat penyebaran wabah.
WHO mencatat hingga 24 Mei terdapat 10 kematian terkonfirmasi dan 223 kematian diduga akibat Ebola sejak wabah diumumkan pada 15 Mei lalu. Jumlah kasus dugaan dan terkonfirmasi kini telah melampaui 1.000 kasus.
WHO juga memperingatkan bahwa penyebaran virus kemungkinan lebih luas karena diduga telah beredar tanpa terdeteksi selama beberapa waktu.
Wabah kali ini dipicu oleh varian Ebola Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan spesifik.
Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika), Jean Kaseya, mengatakan pihaknya menargetkan vaksin dan pengobatan untuk strain tersebut tersedia sebelum akhir 2026.
Sementara itu, WHO telah mengirim 4,6 ton bantuan medis ke Bunia di Provinsi Ituri dan UNICEF mengirim tambahan 100 ton bantuan kemanusiaan. Penanganan wabah semakin sulit karena pusat penyebaran berada di wilayah timur DRC yang selama puluhan tahun dilanda konflik bersenjata.
Tedros meminta seluruh kelompok bersenjata segera menghentikan pertempuran agar penanganan wabah dapat berjalan lebih efektif.
“Konflik dan pengungsian membuat segalanya menjadi lebih sulit. Saya memohon kepada semua pihak yang bertikai, tolong umumkan gencatan senjata,” ujarnya.
Di tengah ancaman penyebaran regional, Uganda menutup perbatasannya dengan DRC setelah mencatat satu kematian akibat Ebola. Amerika Serikat juga melarang masuk individu yang terinfeksi Ebola dan tengah menyiapkan fasilitas perawatan bagi warga negaranya di Kenya.
Namun, rencana tersebut menuai penolakan dari kelompok hak asasi manusia di Kenya yang khawatir fasilitas itu akan membebani sistem kesehatan setempat.
Ebola telah menewaskan lebih dari 15.000 orang di Afrika dalam setengah abad terakhir. Wabah paling mematikan di DRC sebelumnya terjadi pada 2018 hingga 2020 dan menewaskan hampir 2.300 orang.
Baca juga: Wabah Ebola Melonjak, 100 Ton Bantuan Medis UNICEF Tiba di Kongo