Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)
Podium Media Indonesia
Belajar dari Api
Ahmad Punto, Media Indonesia • 23 September 2026 05:22
ADA satu hal yang semestinya membuat kita malu setiap kali musim kebakaran hutan dan lahan datang. Malu karena kita selalu kepayahan menghadapi sesuatu yang sebetulnya bukan hal baru.
Kiranya semua orang di Republik ini tahu karhutla ialah persoalan lama. Ia datang setiap tahun, setiap musim kemarau, dan di wilayah yang nyaris selalu sama. Pemerintah bahkan setiap tahun sudah memetakan wilayah rawan terbakar. Satelit yang membantu melihat titik panas dari atas sana pun kita sudah punya. Namun, ketika api membesar, kita masih saja seperti orang yang baru pertama kali melihat kebakaran.
Tahun ini, cerita lama itu lagi-lagi tersaji. Hingga 20 September, Kementerian Kehutanan mencatat 1.532 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di berbagai wilayah Indonesia. Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan menjadi perhatian utama. Asap kebakaran kian pekat menyesaki dada warga. Tidak hanya warga Sumatra dan Kalimantan, tapi juga warga negara tetangga.
Semua itu tentu diperlukan. Api harus cepat dipadamkan dan asap mesti segera dikendalikan. Warga harus dilindungi, bukan dibiarkan berjuang sendiri melawan asap tebal yang merusak kualitas udara seta menggerogoti kesehatan mereka setiap hari.
Namun, kiranya, sudah waktunya pola pikir dan ukuran keberhasilan dalam isu karhutla itu diubah. Bukan lagi sekadar berapa banyak api yang bisa dipadamkan, melainkan berapa banyak api yang bisa dicegah sebelum menyala dan membuat kalang kabut seluruh negeri.
Jika keberhasilan pemadaman yang selalu menjadi ukuran, kita bisa pastikan pada musim kering tahun berikutnya karhutla bakal kembali datang. Lalu, lagi-lagi, pemerintah akan tergopoh-gopoh memadamkan api tanpa banyak upaya untuk mencegah tren tahunan itu berulang.
Soal penyebab kebakaran, selama ini kita terlalu kerap menyalahkan alam. Tahun ini, misalnya, yang sering dijadikan kambing hitam ialah El Nino. Kebetulan, El Nino tahun ini memang diprediksi terjadi secara ekstrem. Bahkan sebagian ilmuwan menyebutnya sebagai El Nino Godzilla, saking besarnya kekuatan dan dampak kekeringan yang ditimbulkan.

Kondisi api masih membara di kawasan IKN (Dok. BPBD PPU)
Padahal, sesungguhnya, cuaca bukanlah satu-satunya faktor. El Nino mungkin menciptakan kondisi yang membuat api lebih mudah hidup, tapi ia tidak menyebabkan api. Seekstrem apa pun El Nino yang datang, bukan dia yang memantikkan api. Namun, karena menuding El Nino lebih tak berisiko ketimbang menangkap biang karhutla yang sesungguhnya, para cukong pembakar hutan itu, pilihan mudah itulah yang dipilih.
Penelitian terbaru Atmospheric Chemistry and Physics terhadap tiga episode El Nino pada 2015, 2019, dan 2023 cukup menarik jadi rujukan bahwa meskipun punya andil terhadap karhutla, El Nino tidak bisa dijadikan tertuduh utama. Penelitian menghasilkan semacam kesimpulan bahwa intensitas kebakaran dan emisi tidak hanya ditentukan kuat-lemahnya El Nino.
Kondisi hidrologis, seperti kelembapan tanah, tinggi muka air, dan curah hujan ikut menentukan seberapa parah kebakaran. El Nino 2015, misalnya, menghasilkan emisi yang sangat besar karena kondisi tanah amat kering dan muka air tanah rendah. Sebaliknya, 2019 dan terutama 2023 menghasilkan emisi jauh lebih kecil. Perbedaan kondisi air dan kelembapan tanah menjadi salah satu pembeda pentingnya.
Karena itu, alih-alih menyalahkan atau mengatur cuaca, kita mestinya bisa mengatur seberapa rentan lahan menghadapi cuaca dan potensi api. Jangan menunggu api datang untuk mulai bekerja. Kalau para pakar bilang lahan gambut harus tetap basah, jaga airnya. Jangan dibiarkan kering yang memungkinkan api bekerja diam-diam di bawah permukaan.
Kalau ada kawasan yang setiap tahun rawan terbakar, jangan tunggu titik panas bermunculan baru sibuk mematikan. Kalau teknologi sudah mampu membaca perubahan cuaca dan mendeteksi titik panas, gunakan informasi itu untuk bergerak sebelum api menjadi berita utama.
Pencegahan memang bukan pekerjaan yang 'menarik'. Tidak ada kamera yang bakal menyorot ketika kita sedang menjaga muka air gambut tetap tinggi, misalnya. Tidak ada gambar dramatis ketika patroli menemukan lahan yang berpotensi terbakar lalu memastikan api tidak pernah muncul. Tidak ada tepuk tangan ketika sebuah kebakaran bisa dicegah.
Akan tetapi, justru di sanalah keberhasilan mestinya dihitung dan diukur. Upaya pemadaman boleh saja terlihat heroik, tapi jangan pula buru-buru melakukan selebrasi ketika pemadaman berhasil, asap menghilang, dan langit kembali biru. Jangan menganggap persoalan dan pekerjaan sudah selesai sampai di situ.
Justru pada saat itulah waktu terbaik untuk bekerja. Mulai memulihkan lahan, menjaga tata kelola air, memperkuat deteksi dini, merawat kawasan rawan, hingga memastikan kesalahan yang sama tidak terulang pada musim kemarau berikutnya.
Belajar dari api bukan hanya soal bagaimana memadamkannya. Kita mesti memahami mengapa ia muncul, mengapa ia membesar, dan bagaimana mencegahnya kembali. Jika api yang sama terus datang setiap tahun, barangkali ada pelajaran yang belum kita kuasai. Atau, jangan-jangan, kita terlalu sering membolos ketika pelajaran itu diberikan.