AI Jadi Penggerak Ekonomi, Simak Kompetensi yang Dibutuhkan Dunia Kerja Masa Depan

Dekan School of Computer Science BINUS University, Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI. Foro: dok Binus .

AI Jadi Penggerak Ekonomi, Simak Kompetensi yang Dibutuhkan Dunia Kerja Masa Depan

Ade Hapsari Lestarini • 7 August 2026 23:09

Jakarta: Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar menjadi inovasi teknologi, tetapi telah berkembang menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi global. Pemanfaatan AI dinilai mampu meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, serta melahirkan model bisnis dan profesi baru.

 
Perkembangan tersebut turut mengubah kebutuhan dunia kerja. Jika sebelumnya pemilihan jurusan kuliah lebih banyak didasarkan pada minat atau profesi yang sedang diminati, kini kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri menjadi pertimbangan utama.
 
Pemanfaatan AI semakin meluas di berbagai sektor, mulai dari keuangan, kesehatan, manufaktur, pendidikan, hukum, komunikasi, hingga industri kreatif. Teknologi ini juga mendorong lahirnya AI Economy, ketika kemampuan memanfaatkan dan mengembangkan AI menjadi salah satu faktor penentu daya saing individu, perusahaan, maupun negara.
 
Seiring perkembangan tersebut, kebutuhan terhadap profesi seperti AI Engineer, Machine Learning Engineer, AI Product Specialist, hingga AI Consultant terus meningkat. Namun, pemahaman mengenai AI tidak lagi hanya dibutuhkan oleh programmer.
 
Praktisi hukum mulai memanfaatkan AI untuk analisis dokumen, tenaga kesehatan menggunakannya sebagai pendukung diagnosis, perusahaan mengoptimalkan layanan pelanggan, sementara industri kreatif memanfaatkan AI dalam proses produksi konten. Kondisi tersebut menunjukkan literasi AI telah menjadi kompetensi yang dibutuhkan lintas disiplin.
 
Perubahan tersebut juga mendorong perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum agar selaras dengan kebutuhan industri. Pendidikan tinggi dinilai tidak lagi cukup berfokus pada teori, tetapi juga perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi lintas disiplin, pengalaman industri, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
 
Indonesia dinilai berada pada momentum yang strategis karena didukung bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi digital yang meningkatkan kebutuhan terhadap talenta AI.
 
Menjawab kebutuhan tersebut, BINUS University memperluas Program Artificial Intelligence ke sejumlah kampus, yakni BINUS @Bekasi, BINUS @Bandung, BINUS @Malang, dan BINUS University @Semarang. Sementara itu, Program Computer Science di BINUS @Medan juga memperkuat fokus pembelajaran pada Artificial Intelligence.

 

Perluasan program AI

 
Rektor BINUS University Nelly mengatakan perluasan program tersebut merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi.
 
"Keputusan untuk menghadirkan Program Artificial Intelligence di berbagai kampus BINUS merupakan bagian dari komitmen kami dalam semangat Fostering and Empowering the Society. Kami ingin memastikan semakin banyak generasi muda Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk menguasai teknologi masa depan," ujarnya.
 
BINUS menyatakan kurikulum Artificial Intelligence dirancang secara multidisiplin dengan menggabungkan matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing (NLP), Internet of Things (IoT), dan robotika, serta pemahaman mengenai etika AI dan aspek bisnis.
 
Selain pembelajaran di kelas, mahasiswa juga memperoleh pengalaman melalui proyek dan kolaborasi dengan industri untuk memahami penerapan AI dalam dunia kerja.
 
Dekan School of Computer Science BINUS University Derwin Suhartono mengatakan tantangan saat ini bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan apakah generasi muda telah memiliki kompetensi untuk bekerja berdampingan dengan AI.
 
"AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan kita hari ini. Yang perlu dipersiapkan bukan hanya kemampuan menggunakan berbagai tools AI, tetapi juga memahami cara kerjanya, mengevaluasi hasilnya, mengembangkan solusi berbasis AI, serta menerapkannya secara bertanggung jawab," katanya

(Ade Hapsari Lestarini)