3.273 Rumah di Pasuruan Terendam Banjir Luapan Sungai

Kondisi banjir yang merendam permukiman warga di Kabupaten Pasuruan, Selasa, 23 Maret 2026. Dokumentasi/ BPBD Kabupaten Pasuruan

3.273 Rumah di Pasuruan Terendam Banjir Luapan Sungai

Silvana Febiari • 26 March 2026 08:27

Pasuruan: Banjir merendam Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sekitar pukul 14.00 WIB, Selasa, 24 Maret 2026. Bencana ini dipicu oleh sejumlah aliran sungai yang meluap ke permukiman warga akibat hujan intensitas lebat terjadi lebih dari dua jam di wilayah setempat. 

"BPBD Kabupaten Pasuruan yang melakukan kaji cepat pasca-kejadian mencatat ada sekira 3.273 unit rumah yang terendam atau sejumlah 3.273 KK terdampak," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari dalam keterangannya, Kamis, 26 Maret 2026. 
 


Hingga laporan terbaru diterima, kondisi banjir dilaporkan sudah berangsur surut. Meski demikian, petugas tetap bersiaga untuk mengantisipasi potensi hujan susulan.

"BPBD telah melakukan sejumlah penanganan darurat, mulai dari pemantauan dan bersiaga di lokasi terdampak, evakuasi warga terdampak, mengaktivasi dapur umum hingga pendistribusian bantuan logistik bagi warga terdampak," jelals Abdul. 


Kondisi banjir yang merendam permukiman warga di Kabupaten Pasuruan, Selasa, 23 Maret 2026. Dokumentasi/ BPBD Kabupaten Pasuruan


Menyikapi potensi bahaya hidrometeorologi yang masih tinggi, terutama saat libur Idulfitri 2026, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Jika terjadi hujan lebat berkepanjangan atau kenaikan muka air, langkah antisipasi perlu segera dilakukan mulai dari keluarga dan lingkungan rumah.

"Saat beraktivitas di luar ruangan maupun berkendara dalam kondisi hujan deras dan angin kencang, masyarakat diminta menjauhi serta tidak berteduh di bawah pohon besar yang berpotensi tumbang," ungkap Abdul. 

BNPB menekankan pentingnya aksi dini dalam merespons peringatan dini bahaya hidrometeorologi. Selain kesiapsiagaan di tingkat keluarga, jejaring komunikasi seperti grup WhatsApp dan radio handheld transceiver (HT) yang dikelola BPBD hingga aparat kecamatan dan desa menjadi mekanisme efektif dalam penyampaian peringatan dini.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)