Pemimpin Militer Mali Muncul ke Publik Usai Rusia Klaim Gagalkan Upaya Kudeta

Militer Mali berhasil cegah serangan dari teroris. Foto: Anadolu

Pemimpin Militer Mali Muncul ke Publik Usai Rusia Klaim Gagalkan Upaya Kudeta

Fajar Nugraha • 29 April 2026 15:10

Bamako: Pemimpin militer Mali, Assimi Goita, melakukan pertemuan dengan Duta Besar Rusia untuk negara di Afrika Barat.

Kantor Goita merilis foto-foto pertemuan yang menjadi kemunculan publik pertamanya sejak serangan kelompok pemberontak akhir pekan lalu yang menewaskan salah satu menterinya.


Rilis berita tersebut diterbitkan setelah Rusia menyatakan upayanya untuk menjaga stabilitas di Mali, negara di mana Moskow telah memperoleh pengaruh signifikan sejak pemerintahan miiter Goita mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada tahun 2021.

Sebelumnya, pada hari Sabtu, afiliasi Al-Qaeda di Afrika Barat dan kelompok separatis Tuareg menyerang pangkalan militer utama Mali serta area dekat bandara Bamako, sembari memukul mundur tentara Rusia dari wilayah Kidal di utara.

Meski tidak ada pernyataan resmi yang menyertai foto pertemuan Goita dengan Duta Besar Rusia Igor Gromyko, koresponden Al Jazeera menilai citra tersebut secara eksplisit menunjukkan ketergantungan rezim Mali terhadap tentara bayaran Rusia. Pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan Rusia mengeluarkan pernyataan yang mengklaim bahwa pasukan paramiliternya telah membantu menggagalkan upaya kudeta selama serangan hari Sabtu.

Rusia menyebut pasukannya berhasil menghentikan pejuang pemberontak yang mencoba merebut objek vital, termasuk istana kepresidenan.

“Dalam pertempuran sengit melawan kekuatan musuh yang berjumlah besar, unit Africa Corps memberikan kerugian besar pada personel dan perangkat keras musuh, memaksa mereka membatalkan rencana dan mencegah kudeta, serta mempertahankan otoritas pemerintah yang sah,” tulis pernyataan tersebut, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu, 29 April 2026.

Kementerian Pertahanan Rusia juga mengonfirmasi bahwa tentara bayaran dari Africa Corps yang dikendalikan Moskow terpaksa mundur dari kota strategis Kidal di bagian utara. Secara terpisah, pihak Kremlin menyatakan keinginan mendesak untuk mewujudkan perdamaian dan stabilitas di Mali yang telah didera konflik selama lebih dari satu dekade.

Rilis foto dan pernyataan kementerian tersebut dinilai sengaja dirancang untuk menunjukkan bahwa pemerintahan militer tetap aman. Hal ini menjadi krusial mengingat Menteri Pertahanan Sadio Camara tewas dalam serangan Sabtu lalu, sementara Goita sempat tidak terlihat sejak insiden tersebut.

Langkah Goita saat ini dipandang sebagai upaya untuk meyakinkan rakyat Mali bahwa ia tetap memegang kendali dan mampu menjamin keamanan di Bamako dengan bantuan Rusia. Namun, di saat yang sama, berbagai rekaman di media sosial mulai bermunculan yang memperlihatkan tentara bayaran Rusia dan pasukan Mali menyerah kepada kelompok bersenjata yang kini bersatu untuk menggulingkan pemerintah militer.

Rusia telah memperingatkan bahwa separatis Tuareg yang merebut Kidal tengah melakukan konsolidasi untuk serangan baru. Kelompok bersenjata Front Pembebasan Azawad (FLA) dan JNIM yang terkait dengan Al-Qaeda dilaporkan terus bergerak maju di wilayah utara Mali pada hari Selasa.

Skala serangan di berbagai lokasi akhir pekan lalu menunjukkan kemampuan koordinasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara kelompok-kelompok dengan tujuan berbeda untuk menyerang pusat pemerintahan militer. Serangan ini merupakan yang terbesar dalam hampir 15 tahun, di mana dua mantan musuh pejuang Al-Qaeda dan separatis Tuareg bergabung untuk melawan pemerintah militer dan pendukung paramiliter Rusia mereka.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)