Menhan AS, Pete Hegseth. (EFE/EPA/CRISTOBAL HERRERA-ULASHKEVICH)
AS Dilaporkan Tingkatkan Persiapan Operasi Militer ke Kuba
Riza Aslam Khaeron • 16 April 2026 09:58
Washington DC: Pentagon dilaporkan secara diam-diam tengah mematangkan rencana operasi militer potensial di Kuba sembari menunggu arahan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan dan pernyataan terbaru mengenai ambisi untuk "mengambil" pulau tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh USA Today pada Rabu, 15 April 2026.
Dua sumber anonim yang mengetahui perintah tersebut berbicara kepada USA Today. Arahan tersebut tampaknya menjadi eskalasi dari ketegangan baru antara AS dan Kuba yang dimulai pada Januari lalu, saat pemerintahan Trump membatasi pengiriman minyak ke Kuba sebagai bagian dari kampanye untuk menekan perubahan politik menyeluruh di negara yang dikuasai komunis tersebut.
Dalam sebuah pernyataan kepada USA Today, pihak Pentagon menyatakan bahwa mereka tengah merencanakan berbagai kemungkinan dan tetap siap untuk melaksanakan perintah presiden sebagaimana diarahkan.
Laporan mengenai rencana eskalasi ini pertama kali muncul di platform Substack Zeteo dan telah beredar luas di Capitol Hill serta seluruh wilayah Washington.
AS dan Kuba mengakui bahwa saat ini mereka berada dalam tahap awal upaya mencari jalan keluar dari krisis, namun belum jelas seberapa besar masing-masing pihak bersedia berkompromi.
| Baca Juga: Akhiri Blokade, AS Izinkan Tanker Minyak Rusia Masuk Kuba |
Setelah Iran, Kuba Dibidik

Orang-orang berpartisipasi dalam pawai menentang embargo ekonomi AS di depan Kedutaan Besar AS di Havana, Kuba. (EPA/EFE/Ernesto Mastrascusa)
Pada Maret lalu, USA Today melaporkan bahwa kedua negara sempat melakukan diskusi untuk menandatangani kesepakatan ekonomi bersejarah guna mencairkan hubungan diplomatik.
Bahkan ketika perhatian pemerintahan Trump teralihkan ke perang Iran, ketegangan antara Washington dan Havana terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Trump sebelumnya mengindikasikan harapannya agar segera mendapatkan "kehormatan" untuk "mengambil Kuba, dalam beberapa bentuk."
"Apakah saya akan membebaskannya, mengambilnya—saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya," ucapnya.
Pada 13 April 2026, Trump mengatakan kepada USA Today di Gedung Putih bahwa AS “mungkin akan mampir ke Kuba” setelah selesai dengan Iran.
Dalam wawancara baru-baru ini dengan Newsweek, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel bersumpah bahwa negaranya akan melawan jika Amerika Serikat melancarkan serangan militer.
"Kami akan bertempur, kami akan membela diri, dan jika kami gugur dalam pertempuran, mati untuk tanah air adalah hidup," kata Díaz-Canel kepada media tersebut.
Operasi rahasia AS yang mengevakuasi mantan presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dari kompleksnya di Caracas pada 3 Januari 2026 lalu sempat mengirimkan gelombang kejut bagi komunitas eksil Venezuela dan Kuba di Florida Selatan.
Hal ini memicu spekulasi bahwa Kuba akan menjadi target berikutnya. Dalam serangan dini hari terhadap Maduro tersebut, dilaporkan 32 personel militer Kuba yang menjaga presiden tewas.
Namun, tidak seperti periode sebelum operasi militer AS di Venezuela dan Iran, para pejabat AS saat ini tidak mengajukan argumen mengenai adanya "ancaman langsung" dari Kuba terhadap Amerika Serikat.
Selama beberapa dekade, pejabat AS telah mendiskusikan berbagai bentuk intervensi militer di Kuba sejak Fidel Castro dan pasukan pemberontaknya menyerbu Havana pada 1959, yang kemudian menyatakan kesetiaan kepada Uni Soviet dan komunisme.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com