Ilustrasi - Tambak udang vaname yang dikelola Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa, 9 September 2026. ANTARA/Sumarwoto
Pembudi Daya Ikan di Cilacap Diminta Antisipasi Kemarau Panjang
Silvana Febiari • 22 April 2026 11:28
Cilacap: Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah meminta pembudi daya ikan mengantisipasi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada tahun ini. Mereka diminta menyiapkan berbagai langkah adaptasi sejak dini.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Indarto mengatakan salah satu langkah penting yang perlu diperhatikan adalah pengaturan waktu penebaran benih ikan agar tidak dilakukan saat puncak musim kemarau.
"Penebaran benih perlu dipersiapkan dengan baik, jangan sampai dilakukan saat musim kemarau. Kalau sebelumnya sudah disiapkan, hasilnya bisa lebih optimal," kata Indarto, dilansir dari Antara, Rabu, 22 April 2026.
Selain pengaturan waktu tebar, kata dia, pembudi daya juga diminta menyiapkan sumber air alternatif, terutama bagi wilayah yang selama ini rawan mengalami kekeringan. Dalam hal ini, penyediaan tandon air maupun pemanfaatan sumber air cadangan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha budidaya.
Menurut dia, kesiapan sumber air menjadi salah satu faktor krusial dalam menghadapi musim kemarau. Sebab, ketersediaan air akan sangat memengaruhi kualitas lingkungan budi daya.
"Di daerah yang rawan kering perlu ada upaya pengadaan air alternatif, misalnya melalui tandon atau sumber lain yang memungkinkan," ungkapnya.
Secara teknis, kata dia, pembudi daya juga perlu melakukan penyesuaian dalam pemberian pakan serta kepadatan tebar ikan agar tetap sesuai dengan daya dukung lingkungan yang cenderung menurun saat kemarau. Selain itu, lanjut dia, target produksi atau panen juga perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Ia mengimbau pembudi daya tidak memaksakan target tinggi seperti pada saat kondisi normal atau musim yang lebih mendukung. "Target panen jangan disamakan dengan saat musim bagus. Pada musim kemarau, perlu ada penyesuaian karena kondisi budi daya lebih sulit," imbaunya.
Terkait potensi penyakit ikan, ia mengatakan secara umum jenis penyakit tidak mengalami perubahan. Namun, risiko kemunculannya meningkat akibat kualitas lingkungan yang menurun.
"Penyakit itu muncul karena kualitas lingkungan tidak bagus. Saat cuaca ekstrem, kondisi ikan bisa melemah sehingga lebih rentan terserang penyakit," jelasnya.
.jpg)
Ilustrasi kemarau. Foto: Medcom.id.
Oleh karena itu, kata dia, pengelolaan kualitas air menjadi hal yang sangat penting, termasuk menjaga parameter lingkungan agar tetap mendukung pertumbuhan ikan secara optimal. Ia juga mengingatkan pembudi daya untuk mewaspadai fluktuasi suhu udara yang cenderung ekstrem pada musim kemarau, terutama perbedaan suhu antara siang yang panas dan malam yang lebih dingin.
"Fluktuasi suhu yang ekstrem ini perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi ikan," tuturnya.
Terkait dukungan dari pemerintah daerah, ia mengakui bantuan langsung dalam jumlah besar masih terbatas. Kendati demikian, pihaknya tetap mendorong kelompok pembudi daya untuk mengajukan bantuan hibah, khususnya untuk pengadaan sarana seperti pompa air di wilayah yang mengalami kesulitan air saat kemarau.
"Kalau bantuan langsung memang terbatas, tetapi pengajuan hibah tetap kami arahkan, terutama untuk daerah yang kesulitan air," ujarnya.
Di sisi lain, ia menyampaikan kabar positif bagi sektor budi daya udang vaname yang mulai menunjukkan tren perbaikan harga dalam satu hingga dua bulan terakhir. Untuk ukuran 100 (100 ekor per kilogram) yang sebelumnya di bawah Rp40 ribu, saat ini sudah di atas Rp40 ribu.
Menurut dia, komoditas udang selama ini menjadi penyumbang terbesar produksi perikanan budi daya di Kabupaten Cilacap, dengan kontribusi lebih dari 50 persen pada kondisi normal. "Harga udang mulai berangsur naik kembali dalam satu hingga dua bulan terakhir, sehingga ini menjadi semangat bagi pembudi daya untuk terus berproduksi," paparnya.
Indarto mengharapkan dengan berbagai langkah antisipasi tersebut, pelaku usaha perikanan budi daya di Cilacap tetap dapat menjaga produktivitas. Meskipun, mereka menghadapi tantangan musim kemarau panjang.