Kapten Ajeng Mahessa. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Pilot Pesawat Kepresidenan, Kapten Ajeng Mahessa: Antara Tugas Negara dan Keluarga
Muhamad Marup • 23 August 2026 21:30
Jakarta: Kapten Ajeng Mahessa tidak pernah membayangkan dirinya akan menerbangkan pesawat kepresidenan. Bahkan, perempuan berusia 30 tahun itu awalnya tidak pernah terbesit untuk menjadi seorang pilot.
"Tidak pernah menyangka dan tidak pernah mempleningkan dalam perjalanan hidup saya akan menjadi seorang pilot," ujar Kapten Ajeng, dalam acara Q&A yang tayang di Metro TV, setiap Minggu, pukul 21.05 WIB.
Meski tidak terbayang langsung menjadi pilot, keinginannya untuk menjadi tentara sudah tumbuh sejak SMA setelah mengikuti kegiatan Paskibraka Nasional. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada kedisiplinan dan pendidikan semi-militer selain melihat nilai-nilai seorang prajurit dari sang ayah yang seorang purnawirawan.
"Kebetulan ayah saya seorang purnawirawan, sehingga saya banyak melihat bagaimana kehidupan dan disiplinnya seorang militer," jelasnya.
Pembuktian di Angkatan Udara
Ketika masuk Angkatan Udara, Ajeng kemudian diproyeksikan untuk menjadi penerbang. Dari situlah keinginan menjadi pilot mulai tumbuh setelah ia mengenal lebih jauh dunia penerbangan militer.Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke Skadron Udara 17, satuan yang menjalankan tugas penerbangan VIP. Ajeng tercatat sebagai pilot perempuan pertama yang masuk ke skadron tersebut.
Menjadi perempuan di lingkungan yang didominasi laki-laki bukan perkara mudah. Ajeng mengakui pernah merasakan keraguan dari lingkungan sekitar ketika pertama kali masuk ke Skadron VIP.
Ia menilai, keraguan itu merupakan tantangan yang harus dihadapi perempuan di lingkungan militer. Ia memilih tidak membalas keraguan tersebut dengan kata-kata, melainkan membuktikan kemampuan melalui kinerja.
"Bagaimana kita membuktikan kepada mereka bahwa kita ini mampu," katanya.
Sebagai pilot VIP pesawat kepresidenan, kesiapan menjadi bagian penting dalam setiap penerbangan. Baik perubahan waktu maupun rute dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti kebutuhan tugas kenegaraan.
"Karena kalau misalnya memang tiba-tiba Bapak (Presiden) harus ada schedule, atau kunker (kunjungan kerja) ke suatu tempat yang itu diluar dari jadwal, kita harus siap sedia," ucapnya.
Selain itu, kesehatan fisik dan mental juga menjadi penting. Ajeng memaparkan bahwa ia harus melewati rangkaian pemeriksaan kesehatan dan evaluasi fisik sebelum dinyatakan kembali memenuhi kualifikasi terbang.
Setiap tahun, pilot juga menjalani pemeriksaan kesehatan (ILA MEDEX) untuk memastikan kondisi kesehatan, fisik, serta psikologis tetap memenuhi persyaratan. Bahkan kondisi fisik seperti berat badan yang masuk kategori overweight dapat memengaruhi rekomendasi kelayakan untuk terbang.
"Setelah melahirkan pun, saya harus melewati beberapa rangkaian ILA dan MEDEK seperti itu untuk bisa saya qualified terbang kembali," ucap ibu dua anak itu.

Program Q&A mengangkat kisah pilot perempuan. Foto: Metro TV
Tugas Negara dan Keluarga
Ajeng mengungkapkan, pekerjaan sebagai pilot pesawat kepresidenan menuntut prioritas lebih dari dirinya. Karena itu, keluarga menjadi bagian penting yang harus diajak memahami konsekuensi pekerjaan tersebut.Bagi Ajeng, keterbukaan kepada pasangan menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan antara tugas dan kehidupan keluarga. Ia terbiasa berbagi cerita mengenai pekerjaan kepada suaminya agar tidak muncul kesalahpahaman.
"Tapi hal-hal yang diceritakan pun jangan sampai membuat mereka menjadi berpikir yang aneh-aneh atau berpikir negatif tentang apa yang kita lakukan," terangnya.
Ajeng menyebut, keterbukaan itu juga harus disampaikan dengan cara yang tepat. Ajeng ingin suaminya memahami bahwa pekerjaan tersebut merupakan bentuk pengabdiannya kepada negara.
"Saya bekerja tanpa mengenal waktu, artinya 24/7 kita siap untuk mendukung segala misi penerbangan, operasional maupun latihan," tuturnya.
Suami Ajeng sendiri bukan berasal dari lingkungan militer. Keduanya sudah saling mengenal ketika Ajeng masih berstatus sipil, sebelum kemudian hubungan mereka berlanjut lebih serius setelah Ajeng menjadi prajurit.
Sebelum memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan, Ajeng dan suaminya sudah membicarakan konsekuensi pekerjaan tersebut. Ia menjelaskan kemungkinan waktu bersama keluarga, termasuk bersama kedua buah hatinya, berkurang dan tugas negara harus menjadi prioritas dalam kondisi tertentu.
"Bukannya tidak mementingkan anak, tetapi seperti yang tadi saya bilang, bahwa ketika kita sudah berkomitmen, kita sudah masuk ke lingkup militer yang mana loyalitas kita diuji di situ," ucapnya. Dukungan suami menjadi kekuatan tersendiri bagi Ajeng karena ia mengetahui panjangnya proses yang telah dilalui. Pendidikan sebagai taruna berlangsung empat tahun dan dilanjutkan dengan sekolah penerbang sekitar satu setengah tahun sebelum dirinya sampai pada tahap menjalankan tugas sebagai penerbang.
"Dia sangat mendukung karena beliau pun, suami saya, juga melihat perjalanan saya sedari awal. Bagaimana panjangnya, jangka waktu pendidikan, dari mulai taruna 4 tahun, kemudian dilanjutkan sekolah penerbang 1,5 tahun," sebutnya.