Doa Agar Betah Tinggal di Tanah Rantau dalam Agama Islam

Ilustrasi: Pexels

Doa Agar Betah Tinggal di Tanah Rantau dalam Agama Islam

Riza Aslam Khaeron • 22 August 2026 07:00

Jakarta: Ada fase yang hampir selalu dilalui siapa pun yang pindah ke kota baru: malam-malam pertama yang terasa sunyi, wajah-wajah asing di sekeliling, dan rasa rindu kampung halaman yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Ternyata, pengalaman semacam ini bukanlah hal baru dalam sejarah Islam.

Rasulullah saw. dan para sahabat pun pernah mengalaminya ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, sebuah tempat yang pada saat itu masih terasa asing, berat, dan belum bersahabat bagi mereka.
Di tengah rasa tidak nyaman tersebut, Rasulullah mengajarkan para sahabat agar diberi kebetahan tinggal di kota baru tersebut, berikut doanya:
 

Doa Agar Betah di Tanah Rantau

Mengutip NU Online, dalam riwayat Sayyidah Aisyah ra., beberapa sahabat mengalami demam setelah hijrah ke Madinah, di antaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Bilal bin Rabah. Di tengah suasana yang sulit itulah Rasulullah saw. memanjatkan doa agar kota baru mereka dipenuhi ketenteraman dan keberkahan.

Berikut adalah doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah saw. agar Madinah menjadi tempat yang dicintai serta membawa kebaikan:



Allahumma habbib ilainal-madinata kahubbina makkata au asyadd, allahumma sahhihha, wa barik lana fi sa'iha wa muddiha, wanqul hummaha faj'alha bil-Juhfah.

Artinya: "Ya Allah, tanamkanlah rasa cinta terhadap Madinah kepada kami, sebagaimana cinta kami kepada Makkah, atau bahkan lebih kuat lagi. Ya Allah, perbaikilah Madinah, berkahilah sha' dan mudd-nya untuk kami, serta hilangkanlah penyebab sakit demam di sana, lalu alihkanlah ke Juhfah." (Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Beirut, Dar Thawq al-Najah, cet. 1, 1422 H, juz III, halaman 23)

Doa ini juga dikutip oleh Dr. Muhammad Said Ramadan al-Buthi ketika menuturkan masa-masa awal Sayyidah Aisyah di Madinah.

Beliau menjelaskan bahwa Allah mengabulkan doa Rasul-Nya, sehingga Madinah yang sebelumnya dikenal memiliki iklim yang berat berubah menjadi negeri yang baik dan sangat dicintai.

Kisah ini beliau tempatkan dalam pembahasan hijrah dan permulaan kehidupan Aisyah bersama keluarga Nabi Muhammad saw. di Madinah (Muhammad Said Ramadan al-Buthi, 'Aisyah Umm al-Mu'minin: Ayyamuha wa Siratuha al-Kamilah fi Shafahat, Damaskus, Maktabah al-Farabi, 1997 M/1418 H, halaman 13–14).
 
Dari doa ini, kita dapat memetik pelajaran bahwa siapa pun yang merantau atau menempati tempat baru wajar jika merasa khawatir dan asing pada mulanya. Oleh karena itu, salah satu ikhtiar yang dapat kita lakukan adalah memohon keberkahan melalui doa.

Madinah menjadi bukti nyata bahwa tempat yang semula terasa asing dapat berubah menjadi tempat yang paling dirindukan ketika Allah menanamkan rasa cinta di hati para penghuninya.

(Riza Aslam Khaeron)