Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
IHSG Turun 0,61%
Ade Hapsari Lestarini • 31 March 2026 16:20
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sore terpantau berada di zona merah. IHSG terpantau masih "betah" di jalur merah jika dibandingkan perdagangan pagi.
Berdasarkan data RTI, Selasa, 31 Maret 2026, IHSG sore turun 43,448 poin atau setara 0,61 persen ke posisi 7.048. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 7.122. IHSG juga sempat berada di level terendah 7.031 dan tertinggi di posisi 7.155.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 27,236 miliar senilai Rp14,952 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12,447 triliun dengan frekuensi sebanyak 1.748.000 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 262 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 406 saham melemah, dan 151 saham lainnya stagnan.
.jpg)
Baca Juga :
Intip Saham-saham yang Bisa Kasih Cuan Hari Ini
IHSG berpotensi melemah
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico mengatakan, berdasarkan analisa teknikal, IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.000-7.240.
Melansir Antara, dari mancanegara, Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan ekspektasi inflasi Amerika Serikat (AS) secara jangka panjang terlihat terkendali, namun The Fed terus memantau secara cermat dampak perang antara AS dan Israel dengan Iran.
Pernyataan Powell tersebut memberikan keyakinan kepada pelaku pasar bahwa inflasi belum tentu bergerak mengalami kenaikan, sehingga tidak akan membuat The Fed menaikkan tingkat suku bunganya, seperti yang dikhawatirkan pelaku pasar sebelumnya.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak tetap membuat pelaku pasar khawatir, terlebih lagi harga minyak yang terus mengalami kenaikan membentuk level baru, yang hingga hari ini ruang kenaikannya telah mencapai 90 persen.
Dari sisi geopolitik, Mesir, Pakistan, dan Turki mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump harus mengakhiri konflik. Iran mengatakan dengan jelas, bahwa tuntutan yang disampaikan kepada Iran, terlalu berlebihan dan tidak logis menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri.
"Sampai hari ini, kita tidak pernah mengetahui, siapa negosiator yang diajak oleh AS dalam diskusi mengenai permintaan tersebut," ujar Nico.