Ilustrasi. Dok Pexels.
3 Negara yang Tidak Menggunakan Kalender Masehi
Riza Aslam Khaeron • 1 January 2026 16:54
Jakarta: Saat banyak negara menutup 2025 dengan hitung mundur dan kembang api, dunia resmi memasuki Tahun Baru 2026 pada 1 Januari. Namun, pergantian angka tahun seperti itu tidak selalu menjadi acuan utama di semua tempat.
Di sejumlah negara, kalender Masehi (Gregorian) bukanlah sistem penanggalan resmi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari—baik karena alasan tradisi keagamaan, sejarah politik, maupun identitas nasional. Berikut 3 negara yang tidak menggunakan kalender Masehi.
Ethiopia: 13 Bulan dalam Setahun, Tahun Baru di September
Ethiopia menggunakan kalender Ethiopia sebagai kalender sipil resmi, yang dikenal karena memiliki 13 bulan: 12 bulan dengan 30 hari dan satu bulan tambahan sepanjang 5–6 hari.Dalam sistem ini, perbedaan perhitungan era membuat angka tahun Ethiopia tertinggal beberapa tahun dari kalender Masehi. Karena awal tahun tidak dimulai pada 1 Januari, Tahun Baru Ethiopia (Enkutatash) umumnya jatuh pada 11 September (atau 12 September pada tahun kabisat, menurut kalender Masehi).
Dampaknya terasa jelas dalam kehidupan sehari-hari: penanggalan agenda, dokumen lokal, hingga perayaan publik mengikuti hitungan bulan dan tahun versi Ethiopia. Kalender Masehi lebih sering digunakan untuk jadwal penerbangan, transaksi internasional, atau komunikasi lintas negara.
Iran: Tahun Baru Mengikuti Ekuinoks Musim Semi
Iran menggunakan kalender Solar Hijri (Hijriah Syamsiah/Persia) sebagai kalender resmi negara, yang telah berlaku sejak 1925.Tidak seperti kalender Masehi, awal tahun dalam kalender Iran dimulai saat ekuinoaks musim semi (sekitar 20 atau 21 Maret), yang dirayakan sebagai Nowruz.
Artinya, saat dunia merayakan 1 Januari 2026, Iran belum memasuki tahun baru menurut kalender resminya. Tahun baru versi Iran baru dimulai saat ekuinoaks tiba. Oleh karena itu, ritme libur panjang, tradisi keluarga, dan agenda nasional pun mengikuti siklus yang berbeda.
Nepal: Bikram Sambat sebagai Kalender Nasional
Nepal menggunakan Bikram Sambat (Vikram Samvat) sebagai salah satu kalender resmi, yang digunakan luas dalam kehidupan sipil—mulai dari sekolah hingga urusan birokrasi dan keuangan.Kalender ini memiliki angka tahun yang umumnya 56–57 tahun lebih maju dibanding kalender Masehi, tergantung pada bulan.
Selain itu, Tahun Baru Nepal biasanya jatuh pada pertengahan April menurut kalender Masehi. Maka dari itu, suasana awal tahun di Nepal cenderung terasa lebih kuat saat kalender nasional mereka berganti, bukan pada 1 Januari.
Perbedaan sistem penanggalan membuat satu momen yang sama—seperti Tahun Baru 2026—dibaca dengan “bahasa waktu” yang berbeda. Bagi masyarakat lokal, ini menjadi bagian dari identitas budaya dan kesinambungan sejarah. Meski demikian, kalender Masehi tetap dipakai untuk urusan internasional agar selaras dengan praktik global.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com